Showing posts with label anovanisme. Show all posts

Si Doel dan Orang Jawa di Sekitarnya

Generasi yang besar di era 1990-an pasti mengenal tokoh Si Doel dalam serial Si Doel Anak Sekolahan (1994-2003). Tokoh Si Doel identik dengan Rano Karno. Aktor kelahiran 18 Oktober 1960 selain karena keterlibatannya sebagai pemeran Si Doel, sekaligus sutradara dan produser serial tersebut, beliau juga memerankan tokoh Si Doel dalam film Si Doel Anak Betawi (1970) yang disutradarai oleh Sjuman Djaja. 
Rano Karno mengenal tokoh Si Doel dari kegemarannya membaca literatur-literatur klasik Balai Pustaka sejak kecil. Si Doel Anak Betawi (1932) karya Aman Datuk Madjoindo adalah salah satu yang menginspirasinya. “Si Doel adalah obsesi saya, saya sangat menyukai si Doel […] saya sangat mengidolakan Si Doel”, ungkap Rano Karno mengenai tokoh Si Doel[1]

Si Doel Anak Sekolahan sangat kental dengan budaya masyarakat betawi. Namun bukan berarti tokoh-tokoh yang berada dalam sinetron tersebut hanya diisi dengan tokoh-tokoh berlatar belakang betawi. Ada tokoh Kang Mamang si tukang kredit yang berasal dari Sunda, Koh Ahong yang berlatar belakang tionghoa dan juga Mas Karyo yang asli pekalongan. Tokoh-tokoh berlatar belakang non betawi tersebut tentu saja tidak asal muncul. Komunitas betawi memang terdiri dari bermacam-macam latar belakang. Castles (1967), menyebutkan bahwa wilayah yang dihuni oleh masyarakat betawi juga dihuni oleh keturunan Bali, Bugis, Ambon, Melayu, Tionghoa, Sunda, Jawa yang bercampur melalui kawin campur dan hubungan interkultural lainnya.

Dalam sinetron tersebut tokoh-tokoh non betawi dan tokoh betawi juga disematkan dengan bahasa dan stereotip kesukuan yang melekat pada tokoh tersebut. Yang menarik di sini adalah, munculnya tokoh berlatar belakang suku jawa, tidak hanya muncul dalam serial Si Doel Anak Sekolahan. Jika kita tarik lebih lanjut, tokoh berlatar belakang suku jawa sudah ada sejak narasi orisinal Si Doel yang ditulis Aman Datuk Madjoindo dalam Si Doel Anak Betawi (1932). Tokoh berlatar belakang suku jawa ini memang tidak berperan langsung dalam narasi-narasi Si Doel, namun cukup signifikan perannya dalam keberlangsungan narasi si Doel.

Karto dalam Si Doel Anak Betawi (1932)

Sebagai karya sastra angkatan balai pustaka, Si Doel Anak Betawi justru tidak menggunakan Bahasa Melayu Tinggi seperti layaknya buku seangkatannya. Aman justru memperkental penggunaan dialek betawi yang nyablak dalam buku tersebut. Melalui Si Doel Anak Betawi inilah, Aman mempelopori munculnya karya sastra yang menggunakan Bahasa Melayu Betawi[2]. Hal ini menarik karena Aman Datuk Madjoindo adalah orang Minang, bukan orang betawi asli. Beliau bekerja di Jakarta, sebagai guru dan editor di Balai Pustaka. Pekerjaannya sebagai guru inilah yang mendorong Aman untuk menulis SI Doel Anak Betawi. Sebuah buku bertemakan pendidikan untuk anak-anak.

Si Doel Anak Betawi menceritakan kisah tentang si Doel seorang anak betawi yang ingin bersekolah. Dalam konteks sosial masyarakat saat ini tentu saja premis ceritanya sangat tidak menarik. Tapi dalam konteks sosial masyarakat betawi pada masa itu, hal ini menjadi hal yang cukup sensitif. Sekolah dalam masa itu dianggap identik dengan kolonial belanda. Bersekolah, menerima pedagogig barat dianggap akan menjauhkan mereka dari ajaran agama. Pada umumnya masyarakat betawi –yang kita tahu sangat kental dengan budaya Islam, menerima pendidikan dari Pondok Pesantren. Namun tidak semuanya berkeinginan untuk mendapat pendidikan, karena kebanyakan masyarakat betawi memiliki tanah yang luas yang dapat diolah dengan mudah.

Hal tersebutlah yang dikritik Aman Datuk melalui tokoh Si Doel dalam bukunya. Beliau mengkritik masyarakat betawi yang belum mau menerima pedagogig barat. Penolakan terhadap pedagogig barat tersebut diungkapkannya melalui penolakan engkong si Doel sebagai berikut:

Bikin aje apa yang lu suka […] Baik si Doel masuk sekole, baik lu jadiin serani, masak bodoh lu. Gue kagak perduli! Tapi kagak usah die dateng kesini-kesini lagi, gue kagak suka. […] Kalo dia kagak tau ngaji, die jadi kafir lu tau nggak? (Aman, 1932)
Dalam konteks sosial masyarakat betawi pada saat itu, Aman melihat sekolah kolonial sebagai momok bagi masyarakat asli betawi. Mereka menganggap sekolah kolonial tersebut sebagai proses kristenisasi oleh para kolonial. Masyarakat Betawi yang identik dengan agama Islam tentu saja tidak bisa menerima eksistensi sekolah-sekolah kolonial yang mereka anggap menyebarkan Agama Nasrani yang dianggap sebagai agama penjajah.

Jika kita menilik latar belakang Aman Datuk Madjoindo yang seorang minang, kritik terhadap masyarakat betawi tersebut merupakan bentuk keperduliannya untuk mengubah stereotip masyarakat betawi yang pada waktu itu dikenal sebagai pemalas, dan tidak berpendidikan. Latar belakang Minang yang dimiliki Aman juga kental dengan budaya Islam. Sejalan dengan adagium minang “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Syarak mangato adat mamakai” (Adat bersendikan kepada syariat, syariat bersendikan kepada Al-Quran). Masyarakat betawi dan masyarakat minang kental dengan budaya dan agama islam, namun masyarakat minang lebih terbuka dalam menerima pedagogig barat.

Budaya Minangkabau mendorong masyarakatnya untuk mencintai pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sehingga sejak kecil, para pemuda Minangkabau telah dituntut untuk mencari ilmu. Filosofi Minangkabau yang mengatakan bahwa "alam terkembang menjadi guru", merupakan suatu adagium yang mengajak masyarakat Minangkabau untuk selalu menuntut ilmu. Pada masa kedatangan Islam, pemuda-pemuda Minangkabau selain dituntut untuk mempelajari adat istiadat juga ditekankan untuk mempelajari ilmu agama. Hal ini mendorong setiap kaum keluarga, untuk mendirikan surau sebagai lembaga pendidikan para pemuda kampong[3].

Setelah kedatangan imperium Belanda, masyarakat Minangkabau mulai dikenalkan dengan sekolah-sekolah umum yang mengajarkan ilmu sosial dan ilmu alam. Pada masa Hindia-Belanda, kaum Minangkabau merupakan salah satu kelompok masyarakat yang paling bersemangat dalam mengikuti pendidikan Barat. Oleh karenanya, di Sumatera Barat banyak didirikan sekolah-sekolah baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta.

Semangat pendidikan masyarakat Minangkabau tidak terbatas di kampung halaman saja. Untuk mengejar pendidikan tinggi, banyak diantara mereka yang pergi merantau. Selain ke negeri Belanda, Jawa juga merupakan tujuan mereka untuk bersekolah. Sekolah kedokteran STOVIA di Jakarta, merupakan salah satu tempat yang banyak melahirkan dokter-dokter Minang. Data yang sangat konservatif menyebutkan, pada periode 1900 – 1914, ada sekitar 18% lulusan STOVIA merupakan orang-orang Minang[4].

Perbedaan persepektif mengenai pedagogig barat tersebutlah yang membedakan masyarakat minang dan betawi. Namun dalam Si Doel Anak Betawi  (1932), Aman tidak serta merta membenturkan masyarakat betawi dengan masyarakat minang. Beliau memilih membandingkan dengan orang jawa dengan orang betawi. Ketika Si Doel ditanya oleh ayahnya apa hadiah yang dia inginkan setelah puasa ramadhan, Si Doel menjawab ia ingin seragam sekolah. Si Doel membayangkan sekolah sebagai tempat dimana ia bisa belajar dan bermain dengan gembira, ‘seperti si Karto tetangga kite’.

Aman Datuk menggunakan nama Karto –yang merupakan nama Jawa sebagai alasan Si Doel ingin bersekolah. Karto dalam buku tersebut memang tidak dibahas lebih detil. Namun tanpa adanya tokoh Karto, si Doel mungkin tidak akan memiliki alasan untuk bersekolah. Dengan menyandingkan Si Doel Anak Betawi dengan tetangganya yang orang jawa, Aman seolah mencoba untuk mendorong masyarakat betawi untuk mengikuti pendidikan “seperti tetangganya orang jawa”. Melalui tokoh ayah tiri Si Doel, Aman mengungkapkan pentingnya pendidikan

Saya lihat orang di sini kurang suka menyerahkan anaknya ke sekolah. Mereka hanya diserahkan mengaji saja […]. Betul belajar mengaji dan agama itu sangat baiknya, tetapi sekolah jangan dilupakan. Karena dengan ilmu sekolah itulah sekarang orang dapat mencari hidup yang baik. (Aman, 1932)  

Sri, dalam Si Doel Anak Betawi (1973)

Awal 1970-an, seorang sutradara lulusan All Union State Institute of Cinematography, Moskow bernama Sjuman Djaja memutuskan untuk mengadaptasi Si Doel Anak Betawi ke media film. Kapasitas Sjuman Djaja sebagai sutradara tidak perlu diragukan lagi. Ia lulus dari Institut yang sejak 1986 berganti nama menjadi Gerasimov Institute of Cinematography –dinamakan sesuai nama sutradara dan aktor legendaris Rusia, Sergei Gerasimov, sebagai lulusan non Rusia pertama dengan predikat cumlaude.

Dalam adaptasinya, Sjuman Djaja bekerja sama dengan aktor Soekarno M Noor, yang merupakan ayah dari Rano Karno. Soekarno M Noor berperan sebagai kakek dari Si Doel dalam film ini. Semula Tino Karno, anak sulung Soekarno M. Noor yang direncanakan berperan sebagai Si Doel, namun pada akhirnya Rano Karno yang didaulat untuk memerankan Si Doel, sementara Tino Karno berperan sebagai Sapi’i, arch nemesis Si Doel yang kemudian menjadi teman akrabnya. Tokoh babe-nya Si Doel diperankan oleh seniman betawi Benyamin Suaeb.

Terlepas dari latar belakang keturunan jawa, Sjuman Djaja bisa dikatakan sangat dekat dengan orang betawi. Karena ia tinggal cukup lama di Jakarta. Sama seperti halnya Aman, Sjuman Djaja menggunakan tokoh orang jawa sebagai pembanding Si Doel yang mewakili Masyarakat Betawi.

Si Doel    : Doel nggak mau berkelahi Bu. Tapi si Sapi’i itu emang jahanam, dia selalu bikin gara-gara.
Emak       : Ya biarin aja dia cari gara-gara. Kamu nggak usah jawab. Memangnya kamu mau jadi jagoan? Nggak anak, nggak bapak maunya jadi jagoan.
Si Doel    : Mentang-mentang die orang kaya!
Emak       : Dengar nak, kamu mau sekolah apa nggak?
Si Doel    : Mau dong Bu, Pake dasi, pake sepatu, bawa tas kayak si Badu dan si Sri, anak Pak Karto di sebelah itu.
Emak       : Nah, kalo kamu mau sekolah, nggak usah jadi jagoan.
Babe        : Sekolah juga, jadi jagoan juga. Itu namanya anak si Asman.

Sjuman Djaja meneruskan kritik dari Aman dalam bukunya, selain dari itu ia menambahkan peran Badu dan Sri anak Pak Karto. Namun meskipun jika dikomparasikan dengan sumber adaptasinya, film ini memiliki beberapa perbedaan dengan bukunya. Dalam buku tidak dijelaskan secara eksplisit latar waktu cerita, namun di film terlihat bahwa latar waktu cerita tersebut pada tahun 1940 dengan terlihatnya tanggal yang ditulis di pusara babe-nya si Doel. Perbedaan selanjutnya adalah ayah Si Doel yang baru adalah pamannya Asmat, adik dari babe-nya Si Doel. Asmat meneruskan budaya betawi ‘turun ranjang’ dengan menikahi janda kakaknya, sementara di buku ayah kedua Si Doel tidak jelas. Perbedaan lainnya adalah kakek si Doel yang dalam buku Si Doel Anak Betawi menentang keras si Doel bersekolah, di dalam film, kakek si Doel justru mendukung, bahkan mengantarkan si Doel di hari pertamanya sekolah. Alasan si Doel bersekolah pun bukan karena Karto tetangganya yang jawa seperti dalam buku, namun lebih karena Sri, anak pak Karto dalam film. Cinta monyet si Doel kepada Sri inilah yang membuatnya ingin bersekolah.

Dalam film ini, peran orang jawa masih sebagai alasan si Doel untuk bersekolah meskipun bukan sebagai competitor, tapi lebih pada adanya romantic feeling. Film Si Doel Anak Betawi ini sukses besar, sehingga membuat Sjuman Djaja membuat sekuelnya pada tahun 1977 dengan judul Si Doel Anak Modern.

Mas Karyo dalam Si Doel Anak Sekolahan (1994-2003)

Si Doel Anak Sekolahan, memang bukanlah adaptasi fidel dari buku Si Doel Anak Betawi (1932), maupun film Si Doel Anak Betawi (1973). Si Doel Anak Sekolahan lebih sebagai extended adaptation dari kedua sumber adaptasinya. Rano Karno mengubah tokoh-tokoh dalam narasi si Doel besar-besaran. Perubahan itu tentu saja bukan tanpa alasan. Tentu saja tidak mungkin mengangkat kisah anak kecil yang ingin sekolah pada tahun 1990-an. Perubahan ini disesuaikan dengan kemudahan pendidikan, dan program wajib belajar sembilan tahun.

Dalam Si Doel Anak Sekolahan, dikisahkan Si Doel sudah hampir lulus dari kuliah. Peran tokoh Mas Karyo di sini tentu saja sudah beralih, karena tidak diperlukannya alasan Si Doel untuk sekolah. Mas Karyo (dan Mandra) lebih berperan sebagai arketipe clown, sebagai pemancing tawa untuk mewarnai narasi Si Doel Anak Sekolahan. Mas Karyo dikisahkan sebagai seorang perantau dari pekalongan yang bertetangga dengan Si Doel. Perbenturan budaya antara Mandra yang seorang betawi dan Karyo yang jawa dikemas sedemikan rupa sehingga menjadi lucu. Almarhum Basuki yang memerankan Mas Karyo adalah anggota Srimulat, sementara Mandra adalah aktor lenong dan topeng. Perpaduan dua budaya, betawi yang keras dan jawa yang ngalem malah menjadikan interaksi menarik diantara kedua tokoh tersebut.

Adaptasi Media, Adaptasi Konteks dan Peran

Narasi Si Doel mengalami perubahan dari versi buku Si Doel Anak Betawi hingga serial Si Doel Anak Sekolahan. Selain perubahan media dari buku ke film lalu menjadi serial, perubahan yang terjadi juga meliputi perubahan kritik sosial yang disesuaikan dengan konteks sosial masyarakat pada setiap kemunculan adaptasinya. Perbedaan konteks social tersebut tentu saja mempengaruhi peran tokoh dalam narasinya, baik secara teknikal maupun secara fungsional.

Tokoh orang Jawa mungkin dipilih Aman Datuk Madjoindo, Sjuman Djaja, maupun Rano Karno, karena orang jawa termasuk kelompok besar sosial masyarakat yang paling berpengaruh di pulau Jawa. Denys Lombart dalam Le Carrefour Javanais[5] membagi pulau jawa menjadi tiga kelompok besar sosial masyarakat. Kelompok pertama adalah masyarakat pesisir –meliputi pesisir utara Pulau Jawa, masyarakat Sunda –meliputi Jawa bagian barat, dan masyarakat Jawa –meliputi Jawa bagian tengah dan timur. Masyarakat Jawa adalah kelompok sosial masyarakat pulau Jawa yang terbesar.

Adaptasi yang dilakukan Sjuman Djaja dan Rano Karno merupakan bentuk intertekstualitas antara resepsi dan re-intrepretasi masing-masing personal terhadap sumber adaptasi dan kondisi sosial masyarakat saat itu. Mengutip Linda Hutcheon[6], sebagai proses kreasi, adaptasi selalu melibatkan (re-)intrepretasi dan (re-)kreasi, keduanya tentu saja tidak bisa lepas dari perspektif pengadaptasi.




[1] Loven, Klarijn, Si Doel and Beyond: Discourse on Indonesian Television in the 1990s, Leiden University Press, 2008
[2] S. Amran Tasai, Telaah Susastra Melayu Betawi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991
[3] A.M.Z. Tuanku Kayo Khadimullah, Menuju Tegaknya Syariat Islam di Minangkabau: Peranan Ulama Sufi dalam Pembaruan Adat, Marja, 2007
[4] Elizabeth E. Graves, The Minangkabau Response to Dutch Colonial Rule in the Nineteenth Century, 1981
[5] Denys Lombart, Le Carrefour Javanais, Essai de Histoire Globale, EHESS, 1990
[6] Linda Hutcheon, A Theory of Adaptation¸Rouledge, 2006
Monday, 19 August 2013
Posted by AnovA

Pacific Rim: Nostalgia Robot Masa Kecil


"There are things you can't fight - acts of God. You see a hurricane coming, you get out of the way. But when you're in a Jaeger, you can finally fight the hurricane. You can win."
—Raleigh Becket
Robot adalah salah satu fantasi manusia yang luar biasa. Melalui robot, manusia bisa menjadi dan act as God dengan menciptakan makhluk yang bisa dikendalikannya sesuka hati. Istilah Robot diciptakan oleh Karel Capek, seorang penulis asal Cekoslovakia dalam dramanya yang berjudul R.U.R pada tahun 1920. Robot berasal dari Bahasa Slavik Kuno berarti pekerja. Ya, Robot pada awal kemunculannya memang ditujukan sebagai pekerja untuk manusia. Hal tersebut dikuatkan oleh karya-karya penulis Amerika Serikat Isaac Asimov (penulis I, Robot), yang sangat mempengaruhi peran robot dalam dunia narasi.

Dalam budaya populer, robot pun muncul dalam berbagai media dan berbagai ukuran. Godfather of Anime, Ozamu Tezuka melahirkan robot dalam wujud anak kecil dan menamainya Astro, dalam manga Astro Boy. Peran robot dalam Astro Boy, masih tetap menganut Three Laws of Robotics a la Asimov. Begitu pula dalam Robocop, Neon Genesis Evangelion dan Patlabor, robot ditakdirkan untuk patuh pada sang pencipta. Nah, perbedaan kelas antara robot dan manusia yang membuat kelas robot mulai memberontak dan melancarkan revolusi kelas dalam serial Terminator. Well, anda akan lebih memahami teori dua kelas-nya Marx setelah mengkhatamkan Terminator. Lalu setelah para kreator narasi tersebut puas mengombang-ambingkan peran robot sebagai protagonis dan antagonis dalam sebuah narasi, diciptakanlah peran baru bagi robot, yaitu sebagai alien dalam Transformer. Hingga kemudian, munculah Jaeger!

Guillermo del Toro, memunculkan sosok Jaeger ( [ˈjɛːɡɐ] dari bahasa Jerman yang berarti pemburu), dalam film terbarunya Pacific Rim. Del Toro mengembalikan sosok robot kembali ke khitahnya yaitu sebagai alat bantu manusia (untuk) melawan monster, yang dalam film ini disebut dengan istilah kaiju (dari bahasa Jepang yang berarti makhluk buas). Mengambil setting pada tahun 2020-an, film ini mengisahkan tentang perlawanan manusia terhadap sosok buas yang tiba-tiba muncul dari dasar pasifik. Dengan kredo "To fight monster, we create monster", maka diciptakanlah sosok mecha raksasa setinggi sekitar 80 meter (Monas tingginya 132m), yang dinamakan Jaeger. Cerita kemudian berfokus pada Raleigh Becket, seorang ranger (sebutan untuk pilot  Jaeger) yang pensiun dini dan ditarik kembali untuk menjalankan misi terakhir dalam perjuangan melawan kaiju.

Konsep ini bukanlah hal baru, kita masih ingat sosok Voltron atau Megazord-nya Power Ranger, sosok robot multi pilot yang digunakan untuk melawan monster. Namun justru pertarungan Jaeger vs Kaiju inilah yang menjadi raison d'etre dari film ini. Sebegitu pentingnya hingga pertarungan dua sosok gigantik ini di-shot dengan banyak zoom in yang cukup membuat pusing. Tetapi justru pendekatan visual yang berbeda dari Guillermo Navarro, sang Director of Photography inilah yang membuat penonton mampu melihat detil visual yang menakjubkan dari Jaeger dan Kaiju. Navarro berhasil mewujudkan keinginan del Toro untuk membuat sesuatu yang "big, beautiful and sophisticated visuals".

Pacific Rim memiliki segalanya untuk menjadi Blockbusters Movie. Mulai dari: visual efek yang luar biasa; aksi pertarungan antara robot raksasa dan monster raksasa yang bakal memukau anak-anak dan orang dewasa; pihak Amerika yang selalu menang; hingga narasi yang biasa saja. Memang narasi cerita ini cenderung datar, klise, namun logika film-nya cukup terjaga dengan baik. Del Toro (bersama Travis Beacham) membangun dengan baik mitologi Pacific Rim. Ini berlawanan dengan yang disebutkan Candra Aditya dalam reviewnya, yang mengatakan "Tidak ada satu pun yang masuk akal, misalnya apa motivasi utama para Kaiju menyerang manusia. Apakah mereka monster atau alien?". Motivasi utama para Kaiju sudah jelas untuk menjajah manusia. Itu sudah dijelaskan dalam film. Lalu pertanyaan kedua cukup dijawab dengan they both monster and alien. Monster itu esensinya ke physical appearance, berasal dari kata latin monstrum, yang berarti penyimpangan. Sementara etimologi dari alien berasal dari Bahasa Prancis Kuno alien, yang merupakan turunan dari kata latin alienus yang berarti asing, mahluk asing. Menanyakan apakah kaiju itu monster atau alien sama saja menanyakan apakah Optimus Prime itu alien atau robot.

Selain narasi film yang kurang maksimal, kekurangan film ini terletak pada kualitas akting para aktornya. Akting para aktor disini tidak terlalu istimewa. Charlie Hunnam, sebagai tokoh utama terlalu generic caucastic american hero. Sementara Idris Elba, sebagai marshall ia kurang memiliki kharisma jika dibandingkan dengan Terrence Howard atau Laurence Fishburne yang mungkin lebih terbiasa memainkan peran-peran komandan. Justru Rinko Kikuchi yang tampil menonjol dalam film ini. 

Film ini terselamatkan dengan banyaknya jokes dan dialog yang epic nan quoteable. Jokesnya nggak berlebihan, pas dan tidak kurang. Sependapat dengan Candra Aditya bahwa Pacific Rim hanya memerlukan Charlie Day dan Ron Pearlman untuk membuat seruangan bioskop tertawa. Dialog yang ditulis oleh Beacham dan del Toro mengandung banyak lines menarik. Dari "Don't get cocky kid." (Yancy pada Raleigh, yang dipinjam dari lines milik Hans Solo dalam Star Wars), hingga yang paling epic "Today, we're cancelling the apocalypse". Memang sih belum sekelas dengan epic lines seperti "This is SPARTA!" (300), "Luke,... I'm your father" (Star Wars V) atau "Why so serious?" (The Dark Knight). Tapi efeknya sama jika dibandingkan dengan "Release the Kraken!"-nya Liam Neeson.

Tapi bukan berarti film ini tidak bagus. Seperti yang dikutip di atas, mitologi Pacific Rim berhasil dibangun dengan baik oleh kedua writer tersebut. Kredit khusus perlu diberikan kepada Travis Beacham yang merilis graphic novel berjudul Pacific Rim: Tales of Year Zero, sebagai prekuel dan komplemen dari filmnya. Dengan dunia mitologi yang cukup detil, mungkin sedikit terlalu berlebihan jika menyebutnya sebagai the next star wars, namun setidaknya film ini memiliki kemampuan untuk merangkul penggemarnya. Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Meskipun film ini tidak sukses secara komersil di Amerika Serikat, justru pasar terbesar ada di luar Amerika, khususnya di Jepang dan Cina. Forum-forum penggemar pun sudah banyak dan mengharapkan munculnya sekuel dari film ini. 

Pacific Rim, adalah film yang bagus jika anda memposisikan diri sebagai penikmat summer blockbuster movies, atau anda adalah sosok yang merindukan pertarungan megah antara monster dan robot beukuran gigantik yang meluluhlantakkan sepenjuru kota. Namun jika anda seorang kritikus film, maka film ini adalah santapan anda.

AnovA
@anovanisme
Wednesday, 31 July 2013
Posted by AnovA

Backstage's Notes #1: Le Fourberies de Scapin

Pre Scriptum:
Artikel ini ditulis bukan sebagai resepsi maupun review terhadap Pertunjukan Les Fourberies de Scapin, yang dimainkan oleh rekan-rekan Sastra Prancis 2011, pada tanggal 1 Juli 2013 di Auditorium FIB, UGM, sebagai Ujian Akhir Semester, mata kuliah Teori Sastra Prancis Klasik.

Di Balik Adaptasi


Semua penulis adalah peminjam. Mereka semua meminjam pengalaman, sejarah, kejadian-kejadian sehari-hari ke dalam tulisan mereka (Paller, 2010). Hal tersebut ditegaskan oleh adagium* You are what you see. Apa yang anda lihat, apa yang anda baca, apa yang anda ketahui adalah apa yang anda akan bagikan ke orang lain.

Seperti yang saya tulis dalam paragraf pertama skripsi saya, manusia sejatinya adalah homo fabulans, manusia yang bercerita, manusia yang berbagi cerita. Manusia disebut homo fabulans karena manusia mampu menyerap pengalaman diluar pengalaman langsung mereka. Hal inilah yang menyebabkan tradisi lisan berkembang sebelum akhirnya manusia memindahkan narasi mereka dalam serangkaian kode yang kemudian disebut tulisan. Cerita dalam konteks ini tentu saja adalah cerita yang bernarasi. Cerita sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis, cerita asli dan cerita adaptasi.

Untuk media apapun, ketika diadaptasi ke sebuah media yang berbeda akan muncul masalah yang kurang lebih serupa. Masalah ini bersumber dari kenyataan bahwa kisah dalam media lain yang akan diadaptasi sudah dikenal oleh masyarakat, dan tentu saja sudah mencapai tingkat keterkenalan tertentu. Pengadaptasi harus bisa mendayung di antara dua karang. Karang pertama adalah kesetiaan terhadap media asal, dan karang kedua adalah penyesuaian yang dianggap perlu. Kemudian problem lain dalam adaptasi adalah pada teknik komunikasi yang dipakai.

Semua media punya metodenya masing-masing agar komunikasinya bisa sampai sesuai yang dimaksud. Buku punya kesempatan bermain gaya bahasa, mendeskripsikan pikiran orang dan sebagainya untuk mencapai kedalaman dan imajinasi. Komik punya kemampuan menjabarkan panel-panel yang mempertahankan momen dramatik dari sebuah cerita. Console game memiliki kemampuan interaktif langsung yang membuat jalan cerita dan nasib akhir tokoh protagonis ditentukan oleh pemain game tersebut (Irwansyah, 2009)

Pinjaman dari Italia
Mengadaptasi karya terkenal seperti Les Fourberies de Scapin (Penipuan-Penipuan Scapin) karya Jean-Baptiste Poquelin atau yang lebih dikenal dengan nama Moliere, menjadi sebuah tantangan tersendiri. Reputasi Moliere sendiri sebagai Bapak Komedi Prancis seolah membawa beban tersendiri berupa standar komedi macam apa yang akan diadaptasi. Komedi identik dengan pertunjukan yang menghibur, menghadirkan berbagai asosiasi yang ditarik secara ekstrem sehingga menghasilkan ketegangan yang hanya bisa dilepaskan dengan tertawa (Koeslter, 1964).

Tentu saja ada perbedaan sudut pandang mengenai komedi antara Moliere sebagai penulis asli dan kita yang membaca naskah aslinya, tiga abad berselang. Moliere hidup di abad ke-17, ia  akrab dengan theater dan pernah berbagi panggung dengan Comedia dell'arte** di Paris selama 15 tahun hingga kematiannya pada tahun 1673. Kedekatannya dengan Tiberio Fiorilli pemimpin salah satu kelompok Commedia dell'arte memiliki pengaruh besar terhadap karya Les Fourberies de Scapin yang dipentaskan 24 Mei 1671 (Paller, 2010). Sebagai catatan Tiberio Fiorilli ini adalah penemu karakter Scaramucchia, atau juga dikenal dengan nama Scaramouche, jadi bagi anda penggemar Bohemian Rhapsody dan mengira Scaramouche adalah kata ciptaan Farrokh Bulsara a.k.a Freddie Mercury, setidaknya sekarang anda tahu Scaramouche sudah ada sejak abad ke-17.

Pertunjukkan Commedia dell'arte sendiri pada umumnya menggunakan tiga arketipe penokohan: Zanni (Valet / Pembantu), Signor (Master / Tuan), dan Gli Innamorati (The Lovers / Pasangan) (Kartrizky, 2009). Arketipe penokohan itu juga diterapkan Moliere pada Les Fourberies de Scapin. Arketipe Signor diletakkan pada tokoh Argante dan Geronde, Gli Innamorati pada pasangan Octave dan Hyacynthe, juga Leandre dan Zerbinette, sedangkan Zanni pada tokoh Scapin dan Sylvestre. Bahkan nama Scapin atau Scapino dalam Bahasa Italia berasal dari kata Italia scappare yang berarti kabur (to flee). Hal ini menunjukkan kecenderungan tokoh Scapin untuk kabur ketika posisinya tidak menguntungkan dalam konflik yang ia buat sendiri. Paller (2010) berpendapat setidaknya ada dua alasan mengapa terjadi banyak kedekatan antara Commedia dell'arte dan Les Fourberies de Scapin. Pertama, kekaguman Moliere terhadap Commedia dell'arte dan kedua adalah latar belakang munculnya Les Fourberies de Scapin.

Munculnya Scapin
Moliere menemukan perbedaan akting theater Prancis dan komedi theatrikal Italia. Aktor Prancis pada waktu itu terbiasa dengan akting yang statis, kaku, penuh deklamasi dengan suara yang tegas dan keras. Karya-karya populer yang berkembang pada abad ke-17, seperti karya Cyrano de Bergerac, yang kebetulan masih satu almamater dengan Moliere, cenderung membutuhkan akting seperti itu. Sementara kedekatan Moliere dengan Tiberio Fiorilli membuat Moliere mengenal akting khas Italia yang spontan dan natural. Gaya yang spontan dan kemampuan improvisasi karakter para aktor Italia tersebut masih ditambah kecerdasan mereka mengolah dialog dengan puisi-puisi yang diselipkan secara spontan di dalamnya. Dari situ Moliere mengembangkan komedi dengan gaya yang ringan, anggun, dan menekankan pada aspek fisikal akting seperti mimik wajah dan bahasa tubuh.

Yang kedua adalah latar belakang munculnya Les Fourberies de Scapin. Paller (2010) menyebutkan munculnya Les Fourberies de Scapin adalah untuk mengisi panggung theater dan menjauhi masalah. Karya terakhir Moliere sebelum Les Fourberies de Scapin adalah Psyche (1671) yang merupakan kolaborasi dengan Pierre Corneille, Phillipe Quinault dan pengolahan musik oleh Jean-Baptiste Tully. Psyche memang sukses secara finansial, namun tidak bisa dimainkan di theater secara berkesinambungan. Psyche berbentuk Drama Balet, dimainkan dengan lusinan penari dan penyanyi, juga banyak musisi. Sehingga untuk dimainkan secara terus menerus juga tidak mungkin. 

'Menjauhi masalah' dalam hal ini merujuk kepada kontroversi Tartuffe, drama karya Moliere yang ditulis pada tahun 1664 dan direvisi pada tahun 1669 karena dianggap menyinggung Gereja. Walaupun hasil revisi Tartuffe, L'Imposteur (The Imposter) menuai sukses di kalangan aristokrat Prancis. Pihak Gereja masih mengawasi gerak-gerik dan karya-karya Moliere. Moliere membutuhkan suatu karya yang ringan dan tidak menyinggung pihak manapun, dan Scapin memenuhi persyaratan tersebut.

Age of Adaptation
Pemaparan di atas semakin menguatkan kredo*** Nihil Sub Sole Novum, tidak ada yang baru di bawah matahari. Menciptakan sesuatu yang benar-benar asli hampir tidak mungkin. Hasil karya seseorang dipengaruhi oleh pengalaman dan latar belakangnya yang juga dipengaruhi oleh banyak faktor di luar dirinya. Seperti apa yang ditulis oleh Linda Hutcheon, kita hidup di era adaptasi. Manusia secara konstan menceritakan dan menceritakan kembali sebuah cerita, mempertunjukan dan mempertunjukan kembali sebuah pertunjukan, berinteraksi dan berinteraksi kembali dengan yang lain secara terus menerus.

Glosarium
*Adagium : Pepatah / Peribahasa
**Commedia dell'arte (Comedy of the art) : komedi teatrikal dari Italia, sangat populer pada masa itu di Prancis,  terkenal dengan improvisasi karakter dan penekanan pada akting fisikal
*** Kredo : Pernyataan kepercayaan

Daftar Pustaka:
Hutcheon, Linda. 2006. A Theory of Adaptation. London: Rouledge.
Irwansyah, Ade. 2009. Seandainya Saya Kritikus Film: Pengantar Menulis Kritik Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Katrizky, M.A. 2006. The Art of Commedia: A Study in the Commedia dell'Arte 1560–1620 with Special Reference to the Visual Records. New York: Editions Rodopi.
Koeslter, Arthur. 1964. The Art of Creation. London: Hutchinson.
Puller, Michael. 2010. Word of Play: Scapin. San Francisco: American Conservatory Theater.
Thursday, 4 July 2013
Posted by AnovA

Popular Post

Blogger templates

Labels

- Copyright © anovanisme -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -