Showing posts with label reflection. Show all posts

Backstage's Notes #1: Le Fourberies de Scapin

Pre Scriptum:
Artikel ini ditulis bukan sebagai resepsi maupun review terhadap Pertunjukan Les Fourberies de Scapin, yang dimainkan oleh rekan-rekan Sastra Prancis 2011, pada tanggal 1 Juli 2013 di Auditorium FIB, UGM, sebagai Ujian Akhir Semester, mata kuliah Teori Sastra Prancis Klasik.

Di Balik Adaptasi


Semua penulis adalah peminjam. Mereka semua meminjam pengalaman, sejarah, kejadian-kejadian sehari-hari ke dalam tulisan mereka (Paller, 2010). Hal tersebut ditegaskan oleh adagium* You are what you see. Apa yang anda lihat, apa yang anda baca, apa yang anda ketahui adalah apa yang anda akan bagikan ke orang lain.

Seperti yang saya tulis dalam paragraf pertama skripsi saya, manusia sejatinya adalah homo fabulans, manusia yang bercerita, manusia yang berbagi cerita. Manusia disebut homo fabulans karena manusia mampu menyerap pengalaman diluar pengalaman langsung mereka. Hal inilah yang menyebabkan tradisi lisan berkembang sebelum akhirnya manusia memindahkan narasi mereka dalam serangkaian kode yang kemudian disebut tulisan. Cerita dalam konteks ini tentu saja adalah cerita yang bernarasi. Cerita sendiri dapat dibagi menjadi dua jenis, cerita asli dan cerita adaptasi.

Untuk media apapun, ketika diadaptasi ke sebuah media yang berbeda akan muncul masalah yang kurang lebih serupa. Masalah ini bersumber dari kenyataan bahwa kisah dalam media lain yang akan diadaptasi sudah dikenal oleh masyarakat, dan tentu saja sudah mencapai tingkat keterkenalan tertentu. Pengadaptasi harus bisa mendayung di antara dua karang. Karang pertama adalah kesetiaan terhadap media asal, dan karang kedua adalah penyesuaian yang dianggap perlu. Kemudian problem lain dalam adaptasi adalah pada teknik komunikasi yang dipakai.

Semua media punya metodenya masing-masing agar komunikasinya bisa sampai sesuai yang dimaksud. Buku punya kesempatan bermain gaya bahasa, mendeskripsikan pikiran orang dan sebagainya untuk mencapai kedalaman dan imajinasi. Komik punya kemampuan menjabarkan panel-panel yang mempertahankan momen dramatik dari sebuah cerita. Console game memiliki kemampuan interaktif langsung yang membuat jalan cerita dan nasib akhir tokoh protagonis ditentukan oleh pemain game tersebut (Irwansyah, 2009)

Pinjaman dari Italia
Mengadaptasi karya terkenal seperti Les Fourberies de Scapin (Penipuan-Penipuan Scapin) karya Jean-Baptiste Poquelin atau yang lebih dikenal dengan nama Moliere, menjadi sebuah tantangan tersendiri. Reputasi Moliere sendiri sebagai Bapak Komedi Prancis seolah membawa beban tersendiri berupa standar komedi macam apa yang akan diadaptasi. Komedi identik dengan pertunjukan yang menghibur, menghadirkan berbagai asosiasi yang ditarik secara ekstrem sehingga menghasilkan ketegangan yang hanya bisa dilepaskan dengan tertawa (Koeslter, 1964).

Tentu saja ada perbedaan sudut pandang mengenai komedi antara Moliere sebagai penulis asli dan kita yang membaca naskah aslinya, tiga abad berselang. Moliere hidup di abad ke-17, ia  akrab dengan theater dan pernah berbagi panggung dengan Comedia dell'arte** di Paris selama 15 tahun hingga kematiannya pada tahun 1673. Kedekatannya dengan Tiberio Fiorilli pemimpin salah satu kelompok Commedia dell'arte memiliki pengaruh besar terhadap karya Les Fourberies de Scapin yang dipentaskan 24 Mei 1671 (Paller, 2010). Sebagai catatan Tiberio Fiorilli ini adalah penemu karakter Scaramucchia, atau juga dikenal dengan nama Scaramouche, jadi bagi anda penggemar Bohemian Rhapsody dan mengira Scaramouche adalah kata ciptaan Farrokh Bulsara a.k.a Freddie Mercury, setidaknya sekarang anda tahu Scaramouche sudah ada sejak abad ke-17.

Pertunjukkan Commedia dell'arte sendiri pada umumnya menggunakan tiga arketipe penokohan: Zanni (Valet / Pembantu), Signor (Master / Tuan), dan Gli Innamorati (The Lovers / Pasangan) (Kartrizky, 2009). Arketipe penokohan itu juga diterapkan Moliere pada Les Fourberies de Scapin. Arketipe Signor diletakkan pada tokoh Argante dan Geronde, Gli Innamorati pada pasangan Octave dan Hyacynthe, juga Leandre dan Zerbinette, sedangkan Zanni pada tokoh Scapin dan Sylvestre. Bahkan nama Scapin atau Scapino dalam Bahasa Italia berasal dari kata Italia scappare yang berarti kabur (to flee). Hal ini menunjukkan kecenderungan tokoh Scapin untuk kabur ketika posisinya tidak menguntungkan dalam konflik yang ia buat sendiri. Paller (2010) berpendapat setidaknya ada dua alasan mengapa terjadi banyak kedekatan antara Commedia dell'arte dan Les Fourberies de Scapin. Pertama, kekaguman Moliere terhadap Commedia dell'arte dan kedua adalah latar belakang munculnya Les Fourberies de Scapin.

Munculnya Scapin
Moliere menemukan perbedaan akting theater Prancis dan komedi theatrikal Italia. Aktor Prancis pada waktu itu terbiasa dengan akting yang statis, kaku, penuh deklamasi dengan suara yang tegas dan keras. Karya-karya populer yang berkembang pada abad ke-17, seperti karya Cyrano de Bergerac, yang kebetulan masih satu almamater dengan Moliere, cenderung membutuhkan akting seperti itu. Sementara kedekatan Moliere dengan Tiberio Fiorilli membuat Moliere mengenal akting khas Italia yang spontan dan natural. Gaya yang spontan dan kemampuan improvisasi karakter para aktor Italia tersebut masih ditambah kecerdasan mereka mengolah dialog dengan puisi-puisi yang diselipkan secara spontan di dalamnya. Dari situ Moliere mengembangkan komedi dengan gaya yang ringan, anggun, dan menekankan pada aspek fisikal akting seperti mimik wajah dan bahasa tubuh.

Yang kedua adalah latar belakang munculnya Les Fourberies de Scapin. Paller (2010) menyebutkan munculnya Les Fourberies de Scapin adalah untuk mengisi panggung theater dan menjauhi masalah. Karya terakhir Moliere sebelum Les Fourberies de Scapin adalah Psyche (1671) yang merupakan kolaborasi dengan Pierre Corneille, Phillipe Quinault dan pengolahan musik oleh Jean-Baptiste Tully. Psyche memang sukses secara finansial, namun tidak bisa dimainkan di theater secara berkesinambungan. Psyche berbentuk Drama Balet, dimainkan dengan lusinan penari dan penyanyi, juga banyak musisi. Sehingga untuk dimainkan secara terus menerus juga tidak mungkin. 

'Menjauhi masalah' dalam hal ini merujuk kepada kontroversi Tartuffe, drama karya Moliere yang ditulis pada tahun 1664 dan direvisi pada tahun 1669 karena dianggap menyinggung Gereja. Walaupun hasil revisi Tartuffe, L'Imposteur (The Imposter) menuai sukses di kalangan aristokrat Prancis. Pihak Gereja masih mengawasi gerak-gerik dan karya-karya Moliere. Moliere membutuhkan suatu karya yang ringan dan tidak menyinggung pihak manapun, dan Scapin memenuhi persyaratan tersebut.

Age of Adaptation
Pemaparan di atas semakin menguatkan kredo*** Nihil Sub Sole Novum, tidak ada yang baru di bawah matahari. Menciptakan sesuatu yang benar-benar asli hampir tidak mungkin. Hasil karya seseorang dipengaruhi oleh pengalaman dan latar belakangnya yang juga dipengaruhi oleh banyak faktor di luar dirinya. Seperti apa yang ditulis oleh Linda Hutcheon, kita hidup di era adaptasi. Manusia secara konstan menceritakan dan menceritakan kembali sebuah cerita, mempertunjukan dan mempertunjukan kembali sebuah pertunjukan, berinteraksi dan berinteraksi kembali dengan yang lain secara terus menerus.

Glosarium
*Adagium : Pepatah / Peribahasa
**Commedia dell'arte (Comedy of the art) : komedi teatrikal dari Italia, sangat populer pada masa itu di Prancis,  terkenal dengan improvisasi karakter dan penekanan pada akting fisikal
*** Kredo : Pernyataan kepercayaan

Daftar Pustaka:
Hutcheon, Linda. 2006. A Theory of Adaptation. London: Rouledge.
Irwansyah, Ade. 2009. Seandainya Saya Kritikus Film: Pengantar Menulis Kritik Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.
Katrizky, M.A. 2006. The Art of Commedia: A Study in the Commedia dell'Arte 1560–1620 with Special Reference to the Visual Records. New York: Editions Rodopi.
Koeslter, Arthur. 1964. The Art of Creation. London: Hutchinson.
Puller, Michael. 2010. Word of Play: Scapin. San Francisco: American Conservatory Theater.
Thursday, 4 July 2013
Posted by AnovA

Perilaku dan Kesadaran Religius

Berawal dari kicauan mbak @pengantenanyar eh @memethmeong :p,

Lebih efektif mana ya utk mengubah perilaku, konsep reward & punishment-nya surga neraka atau konsep karma?

saya terlibat percakapan (yang menurut saya cukup) seru dengannya tentang mengubah perilaku. Well, kalo ngobrolin masalah perilaku (behavior) manusia, setahu saya bisa dikuak dalam tiga ranah, ranah Sosiologi, Politik dan Psikologi. Pertanyaan mbak @memethmeong sangat menarik bagi saya karena pertama opsi yang ia tawarkan berhubungan dengan agama, yang kedua ketika saya tanya konteks behavior yang mana, ia menjawab behavior level individu. Oke, jadi ada sudut pandang untuk melihat perilaku manusia dari sudut pandang religius.

Behavior iki opo?
Behavior secara Google translate dapat diartikan sebagai perilaku dalam Bahasa Indonesia. Perilaku tentu saja tidak terbatas pada manusia saja namun juga pada semua mahluk. Manusia (khususnya scientist) percaya kalo perilaku itu merupakan tindakan terpola, sehingga dapat diketahui hubungan sebab akibat di antara keduanya. Hal tersebut mengakibatkan munculnya banyak teori mengenai pola-pola perilaku, dari perilaku masyarakat (collective behavior), hingga individu (Behaviorism-nya B.F Skinner).

Argumen Apologetik Blaise Pascal
Opsi Karma dan Reward Punishment yang diajukan mbak @memethmeong, semula saya pikir akan efektif ketika eksistensi Tuhan (yang berperan sebagai judge) tidak diketahui. Namun, saya teringat presentasi kelompoknya @kiranhernanda dkk, ketika membahas salah satu filsuf, penulis, matematikawan, fisikawan, scientist Prancis abad XVII, Blaise Pascal. Pascal pernah mengajukan argumen apologetik* yang biasa disebut Pascal's Wager. Pascal berpendapat bahwa manusia semua bertaruh dengan kehidupan mereka, baik dengan asumsi Tuhan ada atau tidak ada. Begini argumennya:
1. Bila anda percaya akan Tuhan dan Tuhan itu ternyata ada, maka anda beruntung dan akan masuk surga.
2. Bila anda percaya akan Tuhan dan Tuhan itu ternyata tidak ada, maka anda tidak akan rugi.
3. Bila anda tidak percaya akan Tuhan dan ternyata Tuhan itu ada, maka anda rugi dan akan masuk neraka
4. Bila anda tidak percaya akan Tuhan dan ternyata Tuhan itu tidak ada, maka tidak akan terjadi apa-apa.

Konsep tersebut sama dengan konsep karma dalam agama India dan Surga dan Neraka dalam agama Samawi (well, semua agama kayaknya ada deh). Jika Tuhan terbukti ada, maka konsep tersebut sama sekali tidak berguna karena semua manusia akan berbuat baik. Sebaliknya jika Tuhan tidak ada maka konsep tersebut juga sama tidak bergunanya karena kekosongan peran Tuhan untuk memberikan judgement mana yang baik dan mana yang buruk.

Argumen apologetik Pascal tersebut tentu saja bukan tanpa kritik. Pengkritiknya tidak hanya dari kalangan yang "tidak percaya" namun juga kaum agamawan saat itu. Kritik yang muncul antara lain:
1. Argumen Pascal nampak seperti transaksi antara kepercayaan dan keberadaan Tuhan. Tuhan akan menukar kepercayaan manusia dengan surga. Hal ini menimbulkan "pengabdian" semu antara manusia kepada Tuhan.
2. Setiap agama memiliki konsep Tuhan dan kebenarannya masing-masing. Otomatis hal tersebut memberikan satu variabel "Tuhan yang mana" yang menjadi "judge" dalam taruhan tersebut, juga menambah resiko manusia masuk neraka jika percaya pada Tuhan yang salah.
3. Salah satu variabel dalam argumen Pascal tersebut adalah kepercayaan. Sementara kepercayaan sendiri bukan sesuatu hal yang dapat dikontrol. Dalam konteks kritik, seseorang bisa saja beribadah, tapi jika memang tidak percaya, maka seluruh ibadah tidak akan dilandaskan pada ketulusan.

Karma
Konsep karma pada dasarnya adalah konsep sebab akibat dalam lingkaran kehidupan (samsara). Konsep ini berkembang di agama yang berasal dari kebudayaan India kuno seperti Hindu, Jainisme, Budha, dan Sikh (konsep yang sama ditemukan di beberapa agama yang berasal dari Asia). Konsep dasarnya adalah jika anda berbuat baik maka akan mendapatkan kebaikan, dan sebaliknya. Lalu bagaimana jika di ujung hayat anda melakukan karma yang baik, apakah anda tidak mendapatkan karma? 
Berbeda dengan lingkaran kehidupan dalam agama samawi yang berbentuk linier (ada konsep Awal dan Akhir, Alpha dan Omega). Lingkaran Samsara ini berbentuk lingkaran dan bersifat infinitif. Tujuan dari agama-agama ini justru pada pelepasan diri dari samsara (mokhsa). Karma akan dibalaskan dalam kehidupan berikutnya (reinkarnasi) jika manusia masih terjebak dalam pusaran samsara. Karma bukanlah hukuman namun lebih kepada konsekuensi perilaku.

Reward and Punishment
Reward and Punishment justru menjebak manusia dalam ranah ritual untuk menjaga relasi hubungan vertikal antara Manusia dan Tuhan. Manusia beribadah untuk dirinya sendiri bukan untuk sesamanya. Padahal semua agama justru menekankan pentingnya manusia mengasihi sesamanya. Agama Budha mengajak manusia untuk membahagiakan semua makhluk (sabbe satta bhavantu sukhitatta = semoga semua makhluk hidup berbahagia). Agama Nasrani mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia (Mat 22:39 "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri"). Agama Islam mengajarkan mengasihi sesama mukmin (QS 49:10 "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat."). 

Dengan menjaga hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya, maka hubungan vertikal dengan Tuhan otomatis akan terjaga. Hal inilah yang mungkin kurang disadari oleh Manusia. Seolah hidup ini merupakan kompetisi menuju Surga. Manusia terjebak dalam ritual-ritual ibadah, dengan motivasi menuju surga, melupakan hubungan horizontal dengan sesamanya. 

Mengatur perilaku melalui Kesadaran Religius
Perilaku manusia jika diatur melalui kedua konsep tersebut maka action yang ia lakukan akan dilakukan tanpa ketulusan. Konsep tersebut muncul untuk mendorong (bukan mengatur) manusia untuk selalu berbuat baik pada sesamanya. Sayangnya kesadaran religius yang bersifat universal itu justru direduksi oleh manusia sendiri, sehingga manusia sering terjebak dalam ritual ibadah. Namun jika kesadaran religius tersebut dipahami secara utuh, perilaku manusia akan lebih terjaga. Toh pada dasarnya manusia sudah disangoni** oleh hati nurani. Walaupun hati nurani sendiri seringkali tidak didengarkan oleh manusia sendiri.



Keterangan:
*Apologetik: pembelaan iman
** disangoni: dibekali
Wednesday, 19 June 2013
Posted by AnovA

Menekan Ego itu (sangat) Perlu

Sastra identik dengan dunia tulis menulis. Hal tersebut senada dengan etimologi sastra yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Alih bahasa ke bahasa inggris, sastra diartikan sebagai literature, berasal dari kata litterae yang berarti "seni tulisan" dan biasanya merujuk ke tulisan yang diterbitkan.
 
Nah, kembali ke masalah tulis menulis. Sebagai mahasiswa sastra sebenarnya saya agak minder dengan kualitas tulisan saya. Memang, saya bisa menulis dengan runtut dan tata cara penulisan sesuai dengan petunjuk buku EYD yang banyak tersedia dipasaran. Nah, ketika saya sebagai mahasiswa yang sering muter-muter di jagad maya dan berkunjung sebagai silent reader di beberapa blog secara random, saya menemukan banyak sekali tulisan, artikel, dan yang isinya oke, sekaligus dikemas dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami. Dari segi kepresisian makna, terkadang memang kurang pas, tapi bagi orang awam sangat mudah untuk dipahami.
 
Saya pernah dikomentari oleh @intan_nugrahani ketika saya memintanya untuk melakukan proof-read salah satu calon tulisan saya. Tulisan saya tersebut berisi opini kepada salah satu jenis tayangan televisi. Latar belakang dek @intan_nugrahani sebagai lulusan Ilmu Komunikasi dan kebetulan bekerja di ranah media itulah yang membuat saya memintanya untuk melakukan proof-read. Komentarnya sederhana, "Khas cah Sastra." Eh? Maksudnya gimana tuh? Menurutnya, tulisan saya terlalu banyak menggunakan kata-kata teknis tanpa penjelasan yang memadai. Saya dengan gengsi pun melakukan pledoi berdalih menggunakan diksi yang terkesan rumit itu atas nama kepresisian makna.
 
Apa yang salah dengan tulisan saya? Ego! Ya, Ego. Ego untuk memperlihatkan, iki lho aku pinter. Iki lho, aku menggunakan kata-kata sophisticated untuk menerangkan pada anda. Anda nggak ngerti? Coba belajar lagi deh. Ego itulah yang mengkerdilkan tulisan saya.
 
Saya masih ingat jelas, Dosen Pembimbing Skripsi saya banyak menuliskan "Susun dengan kalimat yang mudah, sehingga pembaca lebih tahu maksudnya", dalam lembaran-lembaran draft skripsi saya. Entah, ada yang salah dengan otak saya atau minusnya kemampuan saya untuk mengkomunikasikan kekarepan saya dalam bentuk tulis yang membuat saya menemukan tulisan tersebut dalam draft skripsi saya. Namun, tulisan itu mengingatkan saya bahwa skripsi saya itu bukanlah milestone untuk dinikmati sendiri, skripsi saya kelak (mungkin) akan dipakai sebagai acuan oleh adek-adek kelas saya yang lucu-lucu itu.
 
Permasalahan ego tersebut juga mengingatkan saya akan pertemuan random saya dengan mbak @herlinatiens di bonbin sastra. Selama ini saya menganggap bahwa penulis melacurkan idealismenya kepada penerbit. Hanya penulis yang sudah punya nama (dan tentu saja pernah melacurkan diri pada penerbitlah) yang mempunyai bargaining position lebih untuk memperjuangkan idealisme tulisannya. Namun sebagai penulis yang tentu jauh lebih tahu seluk beluk dunia penerbitan dari pada saya yang sok tahu, beliau (seingat saya) berkata "kalo memperjuangkan idealisme saja, karya saya mungkin hanya dibaca teman-teman saya". Kalimat tersebut seolah mengingatkan saya kembali akan arti kata sastra. Tulisan yang mengandung instruksi.
 
Saya kembali berpikir, sebuah instruksi tentu saja harus sampai kepada penerima instruksi. Apa yang saya tulis akan menjadi tidak berguna ketika tulisan saya tidak dipahami oleh pembaca. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah mutu tulisan saya akan berkurang ketika memakai kata-kata yang kurang sophisticated? Jawabannya tidak. Mutu tulisan bukan sekedar menggunakan kata-kata yang indah, atau menggunakan kata-kata teknis yang sulit dipahami. Idealisme anda tidak akan tersampaikan kalau idea yang menjadi dasar kata idealisme, tidak tersampaikan. Nonsense! Ketersampaian kekarepan yang ingin disampaikan itulah yang menjadi tujuan sastra. Kata-kata sederhana, masih dapat mengiris tajam permasalahan-permasalahan rumit yang ingin disampaikan. 

Membuat pembaca mengerti apa yang dibaca adalah prioritas pertama. Sama tidak mungkinnya mengajar aljabar kepada anak kelas satu SD tanpa mengajarkan dasar-dasar operasi hitung. Jika teks adalah instruksi maka buatlah penerima instruksi itu mengerti terlebih dahulu. Jika sudah mengerti spesifikasikan instruksi tersebut.

Semoga saya bisa menulis dengan lebih rendah hati dan jujur, tentu saja.
Monday, 17 June 2013
Posted by AnovA

Popular Post

Blogger templates

Labels

- Copyright © anovanisme -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -