Menekan Ego itu (sangat) Perlu
Sastra identik dengan dunia tulis menulis. Hal tersebut senada dengan etimologi sastra yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Alih bahasa ke bahasa inggris, sastra diartikan sebagai literature, berasal dari kata litterae yang berarti "seni tulisan" dan biasanya merujuk ke tulisan yang diterbitkan.
Nah, kembali ke masalah tulis menulis. Sebagai mahasiswa sastra sebenarnya saya agak minder dengan kualitas tulisan saya. Memang, saya bisa menulis dengan runtut dan tata cara penulisan sesuai dengan petunjuk buku EYD yang banyak tersedia dipasaran. Nah, ketika saya sebagai mahasiswa yang sering muter-muter di jagad maya dan berkunjung sebagai silent reader di beberapa blog secara random, saya menemukan banyak sekali tulisan, artikel, dan yang isinya oke, sekaligus dikemas dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami. Dari segi kepresisian makna, terkadang memang kurang pas, tapi bagi orang awam sangat mudah untuk dipahami.
Saya pernah dikomentari oleh @intan_nugrahani ketika saya memintanya untuk melakukan proof-read salah satu calon tulisan saya. Tulisan saya tersebut berisi opini kepada salah satu jenis tayangan televisi. Latar belakang dek @intan_nugrahani sebagai lulusan Ilmu Komunikasi dan kebetulan bekerja di ranah media itulah yang membuat saya memintanya untuk melakukan proof-read. Komentarnya sederhana, "Khas cah Sastra." Eh? Maksudnya gimana tuh? Menurutnya, tulisan saya terlalu banyak menggunakan kata-kata teknis tanpa penjelasan yang memadai. Saya dengan gengsi pun melakukan pledoi berdalih menggunakan diksi yang terkesan rumit itu atas nama kepresisian makna.
Apa yang salah dengan tulisan saya? Ego! Ya, Ego. Ego untuk memperlihatkan, iki lho aku pinter. Iki lho, aku menggunakan kata-kata sophisticated untuk menerangkan pada anda. Anda nggak ngerti? Coba belajar lagi deh. Ego itulah yang mengkerdilkan tulisan saya.
Saya masih ingat jelas, Dosen Pembimbing Skripsi saya banyak menuliskan "Susun dengan kalimat yang mudah, sehingga pembaca lebih tahu maksudnya", dalam lembaran-lembaran draft skripsi saya. Entah, ada yang salah dengan otak saya atau minusnya kemampuan saya untuk mengkomunikasikan kekarepan saya dalam bentuk tulis yang membuat saya menemukan tulisan tersebut dalam draft skripsi saya. Namun, tulisan itu mengingatkan saya bahwa skripsi saya itu bukanlah milestone untuk dinikmati sendiri, skripsi saya kelak (mungkin) akan dipakai sebagai acuan oleh adek-adek kelas saya yang lucu-lucu itu.
Permasalahan ego tersebut juga mengingatkan saya akan pertemuan random saya dengan mbak @herlinatiens di bonbin sastra. Selama ini saya menganggap bahwa penulis melacurkan idealismenya kepada penerbit. Hanya penulis yang sudah punya nama (dan tentu saja pernah melacurkan diri pada penerbitlah) yang mempunyai bargaining position lebih untuk memperjuangkan idealisme tulisannya. Namun sebagai penulis yang tentu jauh lebih tahu seluk beluk dunia penerbitan dari pada saya yang sok tahu, beliau (seingat saya) berkata "kalo memperjuangkan idealisme saja, karya saya mungkin hanya dibaca teman-teman saya". Kalimat tersebut seolah mengingatkan saya kembali akan arti kata sastra. Tulisan yang mengandung instruksi.
Saya kembali berpikir, sebuah instruksi tentu saja harus sampai kepada penerima instruksi. Apa yang saya tulis akan menjadi tidak berguna ketika tulisan saya tidak dipahami oleh pembaca. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, apakah mutu tulisan saya akan berkurang ketika memakai kata-kata yang kurang sophisticated? Jawabannya tidak. Mutu tulisan bukan sekedar menggunakan kata-kata yang indah, atau menggunakan kata-kata teknis yang sulit dipahami. Idealisme anda tidak akan tersampaikan kalau idea yang menjadi dasar kata idealisme, tidak tersampaikan. Nonsense! Ketersampaian kekarepan yang ingin disampaikan itulah yang menjadi tujuan sastra. Kata-kata sederhana, masih dapat mengiris tajam permasalahan-permasalahan rumit yang ingin disampaikan.
Membuat pembaca mengerti apa yang dibaca adalah prioritas pertama. Sama tidak mungkinnya mengajar aljabar kepada anak kelas satu SD tanpa mengajarkan dasar-dasar operasi hitung. Jika teks adalah instruksi maka buatlah penerima instruksi itu mengerti terlebih dahulu. Jika sudah mengerti spesifikasikan instruksi tersebut.
Semoga saya bisa menulis dengan lebih rendah hati dan jujur, tentu saja.
Ndonya Ki (Jebule) Mung Sak Upil
Konon katanya, dunia itu tak selebar daun kelor. Namun teknologi digital membuat dunia menjadi lebih sempit dari daun kelor. Dunia 2.0 tersebut menghubungkan orang dari ujung dunia yang satu ke ujung satunya tanpa terhalang oleh waktu. Bahkan menghubungkan masa kini dengan masa lalu.
Alkisah, saat saya masih menjadi mahasiswa bersenjatakan notebook bermerek taiwan yang juga dikenal sebagai notebook sejuta umat, melanglang buanalah saya ke tempat yang menjajakan koneksi hotspot kecepatan tinggi di seputaran bundaran teknik ugm. Saya masih ingat waktu itu tujuan saya kesana adalah mengirim hasil seminar sekeripsi saya via surat elektronik ke dosen saya.
Nah, setelah selesai mengurus tetek bengek akademik di dunia maya, sebagaimana mahasiswa yang memegang teguh kredo "Pejah Gesang Nderek Search Engine" berjalan-jalanlah saya ke dunia maya. Saya betul-betul tidak ingat apa yang jemari saya ketikan ke kotak ajaib milik Mbah Google. Rubah api yang saya kendarai pun meluncur ke sebuah warung. Nama warung itu warungmasjaki, mengikuti nama empunya warung. Jajanan yang saya mamah di warung tersebut adalah jajanan mengenai plagiarisme jajanan sewarung-warungnya. Kasus yang umum sekaligus unik di mata saya.
Apa yang membuat warung itu berkesan? Olahan kata-kata sederhana, yang membungkus rasa di dalam jajanan tersebut itu yang membuat saya terkesan dan beberapa kali berkunjung menikmati suguhan jajanan yang sebagian besar berasa musik itu. Beneran, bukan konten blog-nya yang membuat saya terkesima, namun cara penyajiannya. Sentuhan personal dari sang empunya warung yang membuat saya menyimak dengan detil setiap jajanan di warung tersebut, sebagai silent reader tentu saja. Nah, setelah warung hotspot itu tutup dan kebetulan laptop saya menghembuskan nafas terakhirnya, tak pernah lagi saya berkunjung ke warungmasjaki.
Tak disangka, saya berkunjung kembali ke warung tersebut. Kali ini dihubungkan dengan oleh situs microblogging populer bernama twitter. Kebetulan, adik kelas dari sang pemilik warung tersebut yang juga teman hidup ngopi saya, dek Intan Nugrahani me-retweet tweet dari akun @masjaki. Tweet yang ia retweet itu adalah kutipan dialog dari serial populer tahun 1990-an, Si Doel Anak Sekolahan. Penasaran bin iseng saya buka linimasa akun tersebut, dan menemukan jalan menuju warung yang pernah saya kunjungi. Ealah, jajanannya bertambah, dengan citarasa personal yang masih sama.
Nah, dalam tweet @masjaki yang di-retweet @intan_nugrahani itu juga mengandung nama @nuranwibisono yang akhirnya mengundang rasa ingin tahu saya mengintip ke blog-nya. Post teratas waktu itu bertajuk Festival Berakhir Petaka, yang kebetulan saya pernah saya baca artikelnya dari tautan tweet-nya Rollingstones Indonesia. Artikel yang menurut saya memberikan insight berbeda dari media yang memberitakan kejadian yang sama. Menariknya lagi, mas Nuran Wibisono ini ternyata penggemar Guns N Roses, sama seperti saya (dan dengan ini saya mengakui kalau saya kalah fanatik sama sampeyan mas).
Tulisan dengan tema musik yang dikemas dengan bahasa yang kremes khas mas @nuranwibisono ini, mengingatkan saya akan @ardiwilda yang pertama kali saya kenal melalui review Keracunan Ingatan di jakartabeat (kalo ndak salah). Lhah, dari @intan_nugrahani saya tahu kalo @ardiwilda dan @masjaki memiliki keakraban lebih dari sepasang sahabat. Ealah, lha jebul yo mung mbulet nang kono wae.
Sama kagetnya seperti saat tahu @ardiwilda itu temennya @ladygorgom yang adalah temen KKN sahabat saya Olav Iban, sementara di satu sisi saya sudah lama kenal sama bojonya @ladygorgom, si Bagus. Oke, ternyata saya mengenal banyak anak Ilmu Komunikasi UGM, walaupun hanya kenal searah, dan terbatas di dunia maya.
Lhah, dunia ternyata tidak seluas yang anda kita tho?
Apakah ini ada hubungannya dengan pilihan pertama saya waktu UM UGM? Saya masih ingat betul saya mengisi Ilmu Komunikasi di pilihan pertama, walaupun akhirnya saya justru diterima di pilihan kedua saya, Sastra Prancis.
Ealah Mbuh
Salam kenal @masjaki, @nuranwibisono dan @ardiwilda :)
Mengheningkan Cipta untuk Yugoslavia.
Masih ada yang ingat negara eropa timur bernama Yugoslavia? Negara yang terletak di timur Laut Adriatic itu kini terpecah menjadi tujuh negara itu, pernah menjadi salah satu negara berpengaruh di dunia pesepakbolaan eropa awal 90-an. Bulan Juni 1991 adalah awal bencana bagi Yugoslavia ketika Slovenia dan Kroasia mendeklarasikan kemerdekaannya, disusul Makedonia pada bulan September tahun yang sama, kemudian Bosnia Herzegovina pada tahun 1992, terakhir Montenegro memisahkan diri dari Serbia pada tahun 2006.
Mari melihat potensi tim Yugoslavia pada masa itu. Siapa yang tidak mengenal Predrag Mijatovic, pencetak gol ke gawang Angelo Perruzzi yang membawa Real Madrid merengkuh trofi ketujuh Liga Champion Eropa? Atau Dejan Savicevic yang menjadi motor AC Milan setelah era Trio Belanda. Ada juga Zvonimir Boban (Ya, dia berkebangsaan Kroasia, tapi sempat bermain untuk Yugoslavia sebanyak tujuh kali sebelum Kroasia memisahkan diri). Masih ada Sinisa Mihajlovic, Vladimir Jugovic dan banyak talenta-talenta Eropa Timur yang bisa menjadi batu sandungan tim eropa barat. Di Piala dunia, prestasi tertinggi mereka dua kali mencapai semi final (1930 dan 1962), dan mencapai final di Euro edisi 1960 dan 1968.
Mari berandai-andai jika negara Yugoslavia masih eksis dan menancapkan kukunya di dunia pesepakbolaan saat ini. Siapa kira-kira yang mengisi starting line-up?
Goalkeeper
Asmir Begovic
Stipe Pletikosa
Stipe Pletikosa
Defender
Sub:
Matija Nastasic
Stefan Savic
Darijo Srna
Branislav Ivanovic
Midfielder
Dusan Tadic
Edin Dzeko
Mirko Vucinic
Mirko Vucinic
_AnovA_
Bukan Bang Thohir!
Rencana Erick Thohir mengakusisi La Beneamata, masih ramai diberitakan oleh media Italia dan Indonesia. Di satu sisi Inter memang membutuhkan dana segar untuk menutup akumulasi kerugian lebih dari 150 juta euro demi memenuhi aturan Financial Fair Play. Masalah finansial ini tentu sangat mendesak. Inter butuh penampilan bagus di Serie A musim depan demi lolos ke Liga Champions yang akan menyuntikkan jutaan euro berharga untuk mereka.
Untuk itu, Inter membutuhkan lebih banyak tambahan pemasukan dari sektor penonton dan komersial. Perbaikan sudah coba dilakukan dengan mengikat kerjasama dengan perusahaan konstruksi dari Cina, China Railway Construction Corporation untuk membangun stadion baru. Proyek besar ini diberitakan akan rampung pada tahun 2017.
Terkait saham, mereka juga telah melepas 15% kepemilikan mereka kepada grup perusahaan Cina sehilai 500 juta euro demi meringankan beban finansial. Dari data laba/rugi, Inter memiliki hasil yang lebih mengerikan. Akumulasi kerugian mereka dalam 6 tahun mencapai lebih dari 700 juta euro.
Kerugian Inter paling besar terjadi di tahun 2007 yang menembus angka 200 juta euro. Di 2010, terdapat peningkatan performa keuangan karena berhasil menjuarai Liga Champions. Namun selanjutnya kerugian Inter berada di kisaran 70-80 juta euro, jumlah yang secara kasat mata akan terkena sanksi Financial Fair Play.
Inilah sebabnya Inter beroperasi dengan pendekatan berbeda musim ini setelah rangkaian keputusan yang mendekati mismanagement terjadi di enam musim terakhir. Biaya gaji mereka tahun 2010 adalah salah satu yang tertinggi, bahkan di tingkat Eropa. Mereka membiayai gaji pemain hingga 234 juta euro, yang bahkan lebih banyak dari penerimaan mereka saat itu sebesar 225 juta.
Satu-satunya jalan bagi Il Biscione untuk menghindari sanksi UEFA adalah dengan mengukir profit sebesar 35 juta euro tahun ini. Dengan akumulasi kerugian yang sudah mencapai lebih dari 150 juta euro dalam dua tahun kebelakang, profit senilai 35 juta akan menyelamatkan laporan keuangan Inter dengan akumulasi kerugian senilai 42 juta euro. Apalagi dengan absennya mereka di Liga Champions musim ini, mereka berpotensi kehilangan pendapatan senilai 20 hingga 50 juta euro.
Menjual saham mayoritas ke Erick Thohir di sisi lain memang merupakan jalan pintas mengatasi masalah ini. Namun disini yang dipertaruhkan adalah reputasi dan identitas Internazionale. Morratti sendiri masih ragu dalam menanggapi masalah ini. Beliau masih ragu dan takut Inter akan bernasib seperti Malaga yang seperti anak ayam kehilangan induk setelah ditinggalkan investornya.
Beberapa waktu yang lalu, tuttosport.com memberitakan perbandingan Inter versi Thohir dan Inter versi Morratti. Keduanya hadir dengan skema 3-5-2 khas Walter Mazzarri.
Inter versi Moratti diperkirakan masih mempertahankan muka lama di lini depan. Sementara versi Thohir, bakal mendatangkan nama besar di lini depan seperti Pablo Osvaldo dan Lavezzi. Tak lupa juga Nainggolan
dan Rami.
Inter versi Moratti:
Handanovic;
CAMPAGNARO (Free (9,5 juta euro)), Samuel, Juan,
ISLA (Trade), FLAMINI (Free), Cambiasso, Kovacic, ZUNIGA (18 juta Euro);
ICARDI (15 juta Euro), Palacio.
Inter versi Thohir:
Handanovic;
Ranocchia, RAMI (12 juta Euro), Juan;
BASTA (7 juta Euro), PAULINHO (16 juta Euro), Kovacic, NAINGGOLAN (18 juta Euro), ZUNIGA (18 juta Euro);
LAVEZZI (25 juta Euro), OSVALDO (15 juta Euro).
Mari kita analisis kedua starting line-up impian masing-masing pihak.
Inter versi Moratti masih mempertahankan nama-nama lama. Starting line-up ini mengorbankan dua nama yaitu Guarin dan Rannocchia. Kemungkinan Guarin dilepas dan Rannocchia ditukar tambah dengan Mauricio Isla memang menjadi rumor calciomercato musim panas ini. Campagnaro dan Flamini bisa didapatkan dengan gratis, meninggalkan Zuniga dan Icardi yang menjadi buruan La Beneamata dalam calciomercato musim ini. Keduanya konon akan menghabiskan biaya transfer 33 juta euro NEGO. Dengan estimasi bandrol Ranocchia yang bernilai 20 juta euro dan Guarin yang bernilai 16 juta Euro, maka Inter perlu mengalokasikan dana 12,5 juta Euro lagi.
Sementara Inter versi Thohir menjanjikan starting line-up yang lebih progresif. Pemain baru dalam line-up yang dirilis tuttosport bernilai total 113 juta euro NEGO. Namun mari menilik satu persatu pemain yang diinginkan Erick Thohir.
Adil Rami
Bek Prancis yang bermain di Valencia ini memang salah satu bek yang diandalkan timnas Prancis di Euro lalu. Tapi banderol senilai 12 juta Euro layakah untuk bek yang rentan cedera seperti Rami?
Dusan Basta
Basta memang menjadi alternatif bagi Isla. Harga 7 juta euro yang menjadi banderolnya juga cukup terjangkau. Karakternya yang eksplosif juga cocok untuk skema permainan Mazzarri.
Paulinho
Pemain ini sudah menjadi buruan Il Biscione sejak calciomercato musim dingin lalu. Tarik ulur negosiasi yang tidak disepakati kedua belah pihak menjadi penyebab kegagalan kepindahannya. Harga 16 juta Euro
nampaknya cukup layak untuk pemain yang mencetak gol di laga persahabatan Brazil v Inggris kemarin.
Radja Nainggolan
Gelandang Cagliari ini memang berstatus for sale, demi menyelamatkan neraca keuangan Cagliari. Nainggolan bisa menjadi solusi gelandang box to box yang bertenaga di lini tengah la Beneamata. Selain itu Nainggolan dapat menjadi aset berharga untuk menarik fans di Indonesia (well, konon ICI merupakan Inter Club pertama di dunia yang mencapai 4000 anggota.).
Camilo Zuniga
Konon Zuniga adalah buruan wajib bagi Mazzari. No comment untuk orang ini.
Ezequiel Lavezzi
Kedatangan Lavezzi akan menambah eksplosifitas lini serang La Beneamata. Namun ada harga ada kualitas, harga 25 juta euro menurut saya terlalu mahal.
Pablo Osvaldo
Osvaldo is a big NO! Kenapa? Kelakuannya yang tempramental itu berpotensi menjadi bumerang bagi Il Biscione. Apalagi dengan harga 15 juta Euro.
Apapun keputusan Moratti terkait dengan masa depan status kepemilikan La Beneamata ini, semoga menjadi yang terbaik bagi Il Nerazzuri. Dijual atau tidak saya yakin keputusannya akan didukung oleh segenap Interisti. Seandainya tidak dijual, saya yang memegang teguh prinsip Jawa "Gusti Paring Dalan" (Tuhan akan memberi jalan) yakin dengan seyakin yakinnya Inter akan menemukan solusi untuk masalah finansialnya. Seandainya Moratti memutuskan untuk menjual saham mayoritasnya pada Erick Thohir, harapan saya, Inter tidak ditinggalkan seperti Malaga. Jangan sampai lah, chant di Giuseppe Meazza bertambah dengan lagu "Bukan Bang Thohir".
_AnovA_
yang mencintai Inter
Inter ala Mazzari
Walter Mazzari telah resmi didapuk menjadi pelatih Il Biscione untuk dua musim ke depan. Kesuksesan membawa Napoli menjadi runner-up Serie A musim 2012-2013 menjadi dasar harapan untuk mengangkat Inter dari keterpurukan musim ini. Mazzari sendiri dikenal piawai meracik tim dengan skema tiga defender.
Bertahan dengan tiga bek tengah
Skema formasi dengan tiga bek tidak asing bagi Inter. Inter ala Gasperini dan Inter ala Stramaccionni pernah melakukannya, hanya saja hasilnya kurang memuaskan. Formasi dengan tiga bek pun dianggap rentan dibobol oleh banyak Interisti.
Namun jika kita melihat jauh ke tahun 1962, saat Inter berjaya di Eropa di tangan Helenio Herrera, kita akan melihat La Beneamata melakukan cattenacio dengan tiga difensore.
Seperti yang telah dijabarkan dalam tulisan sebelumnya, pertahanan Inter digalang oleh dua difensore Burgnich dan Guaneri, dilapis oleh satu libero, Armando Picchi. Di sisi kiri dan kanan masih dilapis dengan dua pemain eksplosif, sang legenda Giacinto Fachetti dan Jair.
Formasi itu menghasilkan gelar juara Eropa dua tahun berturutan. Sejatinya skema tiga bek memang lebih fleksibel dari pada skema empat bek. Sepakbola modern bertumpu pada pertarungan di lini tengah. Mengurangi lini belakang bukan untuk menambah lini serang namun justru menambal lini tengah.
Cattenacio ala Herrera bertumpu pada pemain sayap eksplosif, sigap bertahan dan sewaktu-waktu maju untuk memperluas opsi serangan, juga dibutuhkan gelandang ciamik yang mampu menjadi benteng awal pertahanan, perantara lini pertahanan dan lini depan sekaligus menjadi inisiator serangan.
Hal itu yang bakal menjadi PR Mazzari dalam menangani Inter.
Skema formasi dengan tiga bek tidak asing bagi Inter. Inter ala Gasperini dan Inter ala Stramaccionni pernah melakukannya, hanya saja hasilnya kurang memuaskan. Formasi dengan tiga bek pun dianggap rentan dibobol oleh banyak Interisti.
Namun jika kita melihat jauh ke tahun 1962, saat Inter berjaya di Eropa di tangan Helenio Herrera, kita akan melihat La Beneamata melakukan cattenacio dengan tiga difensore.
Seperti yang telah dijabarkan dalam tulisan sebelumnya, pertahanan Inter digalang oleh dua difensore Burgnich dan Guaneri, dilapis oleh satu libero, Armando Picchi. Di sisi kiri dan kanan masih dilapis dengan dua pemain eksplosif, sang legenda Giacinto Fachetti dan Jair.
Formasi itu menghasilkan gelar juara Eropa dua tahun berturutan. Sejatinya skema tiga bek memang lebih fleksibel dari pada skema empat bek. Sepakbola modern bertumpu pada pertarungan di lini tengah. Mengurangi lini belakang bukan untuk menambah lini serang namun justru menambal lini tengah.
Cattenacio ala Herrera bertumpu pada pemain sayap eksplosif, sigap bertahan dan sewaktu-waktu maju untuk memperluas opsi serangan, juga dibutuhkan gelandang ciamik yang mampu menjadi benteng awal pertahanan, perantara lini pertahanan dan lini depan sekaligus menjadi inisiator serangan.
Hal itu yang bakal menjadi PR Mazzari dalam menangani Inter.
Pergerakan Transfer Inter
Transfer musim panas 2013 akan menjadi waktu yang sangat penting bagi Inter untuk memenuhi kebutuhan taktik Mazzari. Sampai artikel ini ditulis sejumlah rumor transfer sudah menyebar. Zuniga, dan/atau Isla konon menjadi prioritas bagi Mazzari. Tidak mengherankan, karena jika menilik formasi yang dipakai Mazzari maupun formasi Cattenacio Herrera jika diterapkan untuk inter musim depan, memang tinggal membutuhkan seorang tornante di sisi kanan dan mungkin seorang registra.
Transfer musim panas 2013 akan menjadi waktu yang sangat penting bagi Inter untuk memenuhi kebutuhan taktik Mazzari. Sampai artikel ini ditulis sejumlah rumor transfer sudah menyebar. Zuniga, dan/atau Isla konon menjadi prioritas bagi Mazzari. Tidak mengherankan, karena jika menilik formasi yang dipakai Mazzari maupun formasi Cattenacio Herrera jika diterapkan untuk inter musim depan, memang tinggal membutuhkan seorang tornante di sisi kanan dan mungkin seorang registra.
Trio Difensore
Rannocchia dan Juan jelas masih berpeluang masuk starting line-up Mazzarri. Kemampuan kedua bek muda Inter itu terbukti dengan selalu menjadi langganan line-up Strama saat mereka berdua fit, baik dalam sistem empat defender maupun tiga defender. Kedatangan Campagnaro yang sudah pernah bekerjasama dengan Mazzarri sebelumnya, berfungsi untuk menjadi cover bagi kedua difensore muda tersebut. Sistem tiga defender ala Mazzari menggunakan dua difensore centrale dengan man marking dan seorang difensori centrale sebagai cover
Rannocchia dan Juan jelas masih berpeluang masuk starting line-up Mazzarri. Kemampuan kedua bek muda Inter itu terbukti dengan selalu menjadi langganan line-up Strama saat mereka berdua fit, baik dalam sistem empat defender maupun tiga defender. Kedatangan Campagnaro yang sudah pernah bekerjasama dengan Mazzarri sebelumnya, berfungsi untuk menjadi cover bagi kedua difensore muda tersebut. Sistem tiga defender ala Mazzari menggunakan dua difensore centrale dengan man marking dan seorang difensori centrale sebagai cover
Dynamo on the Flank
Inter sudah memiliki Nagatomo di sisi kiri. Nagatomo mungkin akan dipertahankan Mazzarri, karena tipikal permainannya yang agresif menyerang dan tangguh dalam bertahan. Nagatomo adalah opsi terbaik Mazzari di posisi Terzino del sinistra. Sejak rezim Morratti berkuasa di Inter, sisi kiri acapkali menjadi kelemahan. Berbagai pemain didatangkan untuk menambal sisi kiri, mulai dari Francesco Coco, Grigoris Georgatos, hingga Maxwell, namun sisi kiri baru aman sejak kedatangan Nagatomo. Sebaliknya di sisi kanan, Inter mungkin masih memiliki Javier Zanetti, namun Il Capitano baru bisa merumput bulan Desember dan alternatif di sisi kanan, Schelotto dan Jonathan masih kurang ekplosif untuk menutup sisi kanan Inter. Bisa jadi kedatangan Isla ataupun Zuniga digunakan untuk menutup kekurangan ini. Namun jangan kesampingkan kedatangan Gino Peruzzi yang bisa menjadi alternatif la beneamata di sisi kanan.
Double Pivot
Kebutuhan double pivot dalam taktik sepakbola modern tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Formasi populer 4-2-3-1 jelas membutuhkan dua gelandang bertahan yang dapat melindungi back four, sekaligus menjadi inisiator serangan. Lalu apa fungsi double pivot dalam formasi berbasis tiga defender? Dua gelandang bertahan di Inter akan dapat diperankan dengan baik melalui Esteban Cambiasso dan Mateo Kovacic. Mazzari dapat melakukan hal yang dilakukan Carlo Mazzone di Brescia maupun Carlo Ancelotti di Milan yang telah mentransformasi Andrea Pirlo yang sejatinya adalah trequartista menjadi salah seorang registra terbaik yang pernah lahir di ranah calcio.
Mateo Kovacic memiliki visi dan akurasi passing yang yang baik, ditambah dia memiliki kemampuan membawa bola yang mungkin lebih baik dari Andrea Pirlo. Kovacic dapat menjadi inisiator serangan balik seperti taktik yang dipakai Mazzarri di Napoli. Jika Kovacic diletakkan di posisi naturalnya sebagai gelandang serang, La Beneamata masih bisa menempatkan Fredy Guarin sebagai Ball Winning Midfielder untuk mendampingi Cambiasso. Penempatan Fredy Guarin sedikit di depan Cambiasso dapat membantu il Biscione mendapat bola sebelum memasuki lini pertahanan Inter. Agresifitas Guarin akan termanfaatkan dengan baik jika diimbangi dengan tackling yang rapi.
Attaccante
Inter masih dapat menggunakan jasa Cassano sebagai pemain menyerang. Mazzarri dan Cassano pernah bekerjasama sebelumnya di Sampdoria. Rodrigo Palacio yang dibeli di bursa transfer musim panas lalu pun dapat memerankan Seconda Punta seperti yang diperankan Ezequiel Lavezzi di Napoli. Inter mungkin tidak memiliki predator lini depan seperti yang dimiliki Napoli dalam diri Edison Cavani. Tetapi Inter memiliki dua opsi untuk peran Prima Punta Diego Milito yang dapat berfungsi sebagai Deep Lying Forward. Peran Poacher pun mungkin akan diberikan pada attacante muda Mauro Icardi.
Inter ala Mazzarri
Inter ala Mazzarri akan menimbulkan sensasi nostalgia La Grande Inter. Setidaknya di tangan Mazzarri hampir mungkin La Beneamata dapat memenuhi ekspektasi minimal Interisti untuk kembali tampil di kompetisi Eropa di musim 2014/2015. Kesabaran dan ketidaklabilan Massimo Morratti sangat diperlukan oleh Inter ala Mazzari. Selain tentu saja keputusan Marco Branca dalam bursa transfer juga berperan besar dalam keberhasilan campaign La Beneamata dalam menyambut musim 2013/2014.
_AnovA_
Zanetti - The Achilles
Lima pertandingan sebelum berakhirnya musim terkutuk Inter musim ini, La Beneamata kembali didera musibah. Il Capitano, Javier Zanetti cedera parah dan divonis akan absen selama enam hingga delapan bulan. Cedera tendon achilles yang menerpa Il Pupi seakan melengkapi nestapa Il Biscione yang didera badai cedera di paruh kedua musim 2012-2013.
Achilles, dalam mitologi Yunani adalah seorang pahlawan perang yang luar biasa. Konon ia dipercaya sebagai manusia setengah dewa. Kedigdayaan Achilles memenangi setiap pertempuran yang dilaluinya membawanya ke pertempuran terbesarnya, Perang Troya, seperti yang dikisahkan Homer dalam magnum opus-nya Illiad.
Achilles dipercayai sebagai seorang tokoh yang tak bisa diendus oleh sang pencabut nyawa. Ibunya, dewi Thetis, mendapatkan ramalan tentang kematian anaknya. Ia berusaha untuk menghilangkan sifat ketidakabadian Achilles. Lalu ia memandikan Achilles di Sungai Styk, supaya anaknya terlindungi dari bahaya dan kebal. Saat memandikan, Dewi Thetis terus memegangi tumit Achilles. Seluruh tubuh Achilles kebal senjata, kecuali tumitnya yang tak tersentuh air Sungai Styk kala itu.
| Achilles versi film Troy |
Tak heran ketika pertempuran Troya tiba. Ia salah satu panglima kubu raja Menelaus yang bertahan hidup. Bahkan Hector, panglima sekaligus putra mahkota troya yang sama digdayanya, tewas terhunus pedang Achilles. Namun menjelang akhir keruntuhan Troya, panah Pangeran Paris menghunjam tumitnya, hingga ia terluka kemudian mati. Sejak itulah istilah tumit Achilles menjadi frase yang mengungkapkan titik lemah seseorang.
Achilles dan Zanetti memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua tangguh dalam menghadapi terpaan pertarungan. Zanetti di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun masih tangguh dan mampu bersaing menjadi pilihan utama di line-up Internazionale, tim yang dibelanya sejak 1995. Jarang sekali terdengar berita Il Pupi cedera parah hingga berbulan-bulan.
Bahkan musim 2012-2013 yang mungkin menjadi musim terburuk Inter, Il Capitano dengan kokohnya bertarung di lapangan hijau saat rekan-rekannya bergantian masuk ruang medis Nerazurri. Hingga insiden dengan pemain Rosanero, Salvatore Aronica menumbangkan tendon achilles sang kapten.
Tendon Achilles berasal gabungan dari tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus, dan otot plantaris kaki. Pada manusia, letaknya tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon tertebal dan terkuat pada badan manusia. Panjangnya sekitar 15 sentimeter, dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian mengumpul dan melekat pada bagian tengah-belakang tulang calcaneus.
Cedera tendon achilles biasanya dimulai dengan gejala nyeri pada pergelangan kaki atau tumit. Penangan pertama cedera ini sama halnya dengan cedera pada cedera olahraga yang lain yaitu dengan metode RICE. Cedera tendon achilles yang parah dapat dipulihkan dengan operasi dan mebutuhkan waktu 3-4 bulan untuk kemudian mengikuti program rehabilitas hingga pulih total.
_AnovA_
Javier Zanetti, Legenda Hidup Yang Legawa
"Dua hal yang tidak pernah berubah dari Zanetti, potongan rambutnya dan semangat yg ditunjukkannya."
- Giuseppe Bergomi (Kapten Internazionale 1987-1999)
Sepakbola adalah olahraga yang menarik saat pemain mencapai puncak permainan pada usia 26 sampai 28 tahun. Setelah
itu, waktu mulai menggerogoti mereka, cedera menjadi lebih umum, peran dalam tim mulai berkurang dan akhirnya pemain akan
terpental dari satu tim ke tim sebelum akhirnya
menggantung sepatu mereka.Saat ini jarang ada pemain yang menghabiskan sebagian besar karir mereka dalam satu tim. Banyak pemain yang berpindah klub karena menganggap klub yang ia bermain
tidak mendapatkan gelar dalam waktu yang cukup lama atau mengejar gaji yang lebih besar di klub yang lebih kaya. Samir Nasri, Robin
van Persie, hingga Zlatan Ibrahimovic adalah beberapa contohnya.
Hanya sedikit pemain yang bertahan di satu tim dan menjadi legenda, Ryan Giggs, Paul
Scholes dan Gary Neville menjadi legenda di Manchester United. Di Italia, pemain seperti Francesco Totti menghabiskan seluruh karirnya di AS Roma. Alessandro
Del Piero telah menghabiskan 99 persen dari karirnya bersama Juventus, dunia sepakbola juga menjadi saksi salah satu bek terbaik sepanjang masa,
Paolo Maldini, pensiun setelah menghabiskan seluruh karirnya bersama AC
Milan.Satu nama yang tak boleh terlupa Javier Zanetti, dalam usia menjelang 40 tahun terus bermain di level tertinggi bersama Internazionale dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Meski
bermain di Argentina selama beberapa tahun sebelum pindah ke Inter
Milan pada usia 22 tahun, Zanetti mewujudkan semua ciri-ciri
pemimpin yang baik dengan kehandalan, fleksibilitas dan konsistensi.
Banyak yang membandingkan Il Capitano Javier Zanetti dengan gelandang Red Devil, Ryan Giggs. Dengan umur yang sudah layak untuk gantung sepatu sebagai seorang pesepakbola, dua orang ini masih saja menjadi andalan bagi timnya masing-masing, mengarungi kasta tertinggi sepakbola Eropa. Namun, bagi saya Javier Zanetti memiliki kelebihan yang tak bisa dibandingkan dengan Ryan Giggs.
Keduanya memiliki fisik yang masih prima dibandingkan pesepakbola yang seumuran dengan mereka. Ryan Giggs masih sanggup mendribbling bola melewati beberapa pemain, sementara Il Pupi masih tangguh menghadang serangan-serangan yang mengancam pertahanan Il Biscione. Keduanya memiliki versatilitas yang luar biasa ketika digeser dari posisi natural mereka. Ryan Giggs mampu menjadi gelandang tengah sementara posisi naturalnya adalah sayap kiri klasik. Javier Zanetti lebih luar biasa lagi. Posisi naturalnya adalah bek kanan, namun ia mampu menjadi bek kiri, bek tengah, gelandang bertahan, gelandang kanan, ataupun gelandang kiri dengan sama baiknya menyesuaikan taktik 19 pelatih yang menangani La Beneamata sejak 1995 hingga kini.
Memang Ryan Giggs lebih bergelimang gelar dari pada Il Capitano, tapi itu semua di bawah satu nama pelatih Sir Alex Ferguson yang telah melatih Manchester United sejak 1986. Jebolan Class of 1992 itu telah meraih 12 gelar juara Premier League (mungkin bertambah nanti malam), 4 FA Cup, 4 Piala Liga, 8 Community Shield, 2 gelar juara UEFA Champions League, 1 Piala UEFA, 1 Piala Interkontinental dan 1 juara Piala Dunia antar club. Semua diraihnya dibawah bimbingan Sir Alex Ferguson, semenjak debutnya di musim 1990/1991.
Javier Zanetti, rekrutan pertama Massimo Moratti yang mendambakan kembalinya era Il Grande Inter. Javier Zanetti direkrut ketika Internazionale melewati apa yang disebut Wikipedia sebagai the dark ages. Zanetti adalah pasak pertama yang ditancapkan Moratti untuk mengembalikan kejayaan Internazionale. Meskipun ia harus menunggu 3 tahun sebelum meraih piala pertama yaitu Piala UEFA pada tahun 1998. Namun Zanetti tetap setia dengan Nerazzuri. Piala pertama yang diangkat Zanetti adalah Coppa Italia tahun 2005, 10 tahun setelah debutnya dan merasakan Scudetto pada tahun 2007, 12 tahun setelah ia menjejakkan kaki di ranah calcio.
Kesabaran, loyalitas dan kelegawaan Zanetti bertahan di kubu Il Biscione mencapai puncaknya ketika Internazionale mengukir sejarah sebagai klub Italia pertama yang meraih treble pada tahun 2010. 15 tahun penantian Zanetti untuk mencapai achievement luar biasa itu. Pencapaian itu diraih setelah Internazionale berganti pelatih hingga 14 kali, dan Zanetti tetap mampu bersaing menempati starting line up La Beneamata. Zanetti tetap mampu menunjukkan kelasnya ketika Maicon Douglas Sisenando, salah satu bek kanan terbaik dunia didatangkan ke Stadio Giuseppe Meazza pada tahun 2006. Alih-alih
duduk di bangku cadangan, Il Pupi
menunjukkan fleksibilitas dengan beralih ke sisi kiri lini belakang. Bahkan untuk
lebih menunjukkan betapa serbaguna dia sebenarnya, ia pernah dimainkan Jose Mourinho di lini
tengah ketika lini tengah Internazionale dilanda badai cederaSalah satu penampilannya yang paling luar biasa adalah ketika Zanetti mendampingi Esteban Cambiasso
sebagai gelandang bertahan, bahu membahu mematikan Lionel Messi dalam semifinal UEFA Champions League 2009-2010, yang berbuntut treble pertama sepanjang sejarah calcio.
Ban kapten Internazionale melingkar di lengannya sejak menerima jabatan kapten dari Giuseppe Bergomi yang pensiun pada tahun 1999, empat tahun setelah debutnya di Internazionale. Bergomi pun termasuk pemain yang loyal. 20 tahun karier sepak bolanya hanya ia habiskan di Internazionale. Jabatan kapten yang telah ia sandang sejak tahun 1987 pun diestafetkan kepada Zanetti yang juga telah memecahkan rekornya sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Internazionale.
Dalam kasus apapun, il Capitano adalah perwujudan dari seorang pemimpin sejati. Meskipun
usianya hampir 40 tahun, ia masih cukup handal untuk menampilkan permainan kelas dunia di Serie A, Liga Champion dan panggung Internasional. Tidak
peduli siapa yang melatih Inter, Zanetti masih sanggup memainkan
lebih dari 50 pertandingan tiap tahunnya. Sesuatu yang mungkin belum tentu bisa dilakukan pemain yang berusia lebih muda darinya. Layaknya anggur, Zanetti terus bermain lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Jangan pensiun dulu kapten.
_AnovA_
Note:
Legawa artinya adalah tulus hati, ikhlas

