Showing posts with label Internazionale. Show all posts

Yang Terhormat Signor Morratti

Saya adalah seorang interista sejak tahun 1998. Saya tidak tahu mengapa saya begitu mencintai Internazionale hingga saat ini. Saya masih ingat betul lima belas tahun yang lalu, saya menyaksikan Internazionale yang kalah secara tidak adil dari Juventus pada tanggal 26 April 1998. Namun, anehnya kekalahan itu justru membuat saya jatuh cinta dengan Inter. Aneh? Tidak logis? Percayalah, jatuh cinta itu tidak pernah logis.

Saya semakin bangga dengan La Beneamata ketika Inter meraih scudetto pada tahun 2007 yang telah anda impikan sejak anda menggantikan Angelo Morratti, ayah anda. Dua belas tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menantikan kebanggaan tersebut. Saya tahu anda mencintai Inter. Anda rela mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan Ronaldo, Cristian Vieri, dan banyak bintang yang anda datangkan demi meraih scudetto. Puncak kebanggaan saya sebagai interista, tentu saja adalah ketika Il Biscione meraih kejayaan sebagai klub italia pertama yang meraih Treble Winner. Dengan fakta bahwa Inter adalah satu-satunya klub yang tidak pernah turun dari Serie A, saya semakin membanggakan klub ini sebagai klub terhebat di Italia. Bahkan rival kita, Juventus belum pernah meraih kehormatan tersebut. Hanya Inter. C'e Solo Inter.

Sejak meraih treble tersebut, Inter belum pernah kembali ke puncak tertinggi Serie-A. AC Milan, dan Juventus kembali membuat Inter seperti pecundang. Namun saya tidak sekalipun meninggalkan Inter. Saya tetap mencintai Inter di saat kalah, karena saya tahu pasti saya mencintai Inter bukan karena banyaknya gelar atau Inter yang tak pernah kalah. Saya mencintai Inter dari hati yang paling dalam.

Musim lalu, adalah musim terburuk bagi Internazionale. Mungkin saya tidak perlu membahas lebih lanjut mengenai musim terkutuk itu. Musim yang buruk itu telah berakhir, dan kini saatnya menatap dan memperbaiki diri untuk menjadi penantang juara di musim depan. Anda tahu pasti hal itu Signor Morratti. Anda memberikan kepercayaan pada Walter Mazzarri sebagai pelatih. Staff pelatih dan staff teknis juga mengalami perubahan, mengantisipasi agar badai cedera yang menghancurkan Inter musim lalu tidak terulang.

Namun ada satu hal yang masih mengganjal di hati saya, Signor Moratti. Saya ingin mempertanyakan kebijakan mercato Internazionale. Apakah Inter tidak belajar dari musim lalu dan musim-musim sebelumnya? Inter memiliki salah satu akademi sepakbola terbaik di Italia. Saya yakin kualitasnya tidak kalah dengan Akademi Sepakbola Ajax Amsterdam, Akademi Sepakbola Manchester United, maupun La Masia, Akademi Sepakbola FC Barcelona. Scout Internazionale pun memiliki mata yang sangat jeli untuk memantau bakat-bakat terbaik dari Italia maupun dari penjuru dunia.

Inter pernah memiliki Andrea Pirlo. Saat ini ia adalah tulang punggung Azzurri dan pengatur permainan AC Milan dua tahun lalu dan kini, registra Juventus. Inter pernah memiliki seorang Mattia Destro. Apa yang Destro lakukan musim lalu? Ia mengantarkan Roma ke final Coppa Italia. Ia mencetak gol ke gawang Inter. Lalu Inter pernah memiliki bakat muda bernama Phillipe Coutinho. Inter menjualnya ke Liverpool dan kini ia menjadi pemain kunci di sana. Dua pemain tersebut adalah pemain muda yang pernah Inter miliki. Anda bahkan dapat membeli beberapa orang Destro dan beberapa Coutinho dengan uang yang anda keluarkan untuk membeli Ronaldo maupun Cristian Vieri.

Tahun ini, La Azzurini menjadi finalis di EURO U-21 di Israel. Empat difensore dan seorang kiper yang menjadi tumpuan pertahanan L'Azzurini, hanya kebobolan 5 gol. L'Azzurini memiliki Francesco Bardi, seorang kiper muda berbakat. Di kanan ada Giulio Donati, lalu ada Luca Cardirola dan Matteo Bianchetti di tengah. Semuanya adalah pemain Akademi Sepakbola Inter. Inter menjadi tumpuan pertahanan L'Azzurini.

Saya benar-benar kecewa ketika Inter menjual Donati ke Leverkusen dengan harga tiga juta euro. Mungkin jika anda bersabar, memberi Donati waktu dan kesempatan bermain anda bisa menjualnya dengan harga sembilan juta euro atau lebih dalam tiga atau empat tahun lagi. Kini saya mendengar berita Inter akan menjual Luca Cardirola. Apakah Inter tidak pernah belajar dari masa lalu?

Saya yakin Inter memiliki dana untuk membeli pemain baru sebagai pengganti pemain yang pergi dari Inter. Saya sangat yakin kecintaan anda kepada Inter membuat anda rela mengeluarkan dana untuk membuat Inter selalu lebih baik. Namun apakah anda rela membuang aset berharga dari Akademi Sepakbola Inter?

Inter masih memiliki Francesco Bardi, Issac Duncan, Joel Obi, Marco Benassi, Matteo Bianchetti dan banyak pemain muda lain. Yang mereka perlukan hanyalah waktu, kesempatan bermain dan kesabaran anda, signor Morratti. Inter bukanlah tim sekelas Udinese yang selalu membeli pemain muda, mengasahnya dan menjual pemain bintangnya setiap musim. Inter dapat meniru Ajax Amsterdam, maupun Manchester United, bahkan Barcelona. Inter muda memiliki potensi. Apakah anda tidak sadar dengan hal itu?

Saya sebagai interista tentu saja tidak ingin kejayaan Inter berlangsung sekali dalam sepuluh tahun. Saya sebagai interista selalu ingin Inter dapat berjaya selama bertahun-tahun. Saya mungkin seorang interista yang bodoh, yang lebih rela melihat Inter kalah namun dapat memberi saya harapan untuk musim-musim berikutnya. Bagi saya, Inter adalah harapan. Harapan dalam biru dan hitam. Seperti jersey kebanggaan Nerazzuri.


AnovA
yang mencintai Inter
Tuesday, 25 June 2013
Posted by AnovA

Bukan Bang Thohir!

Rencana Erick Thohir mengakusisi La Beneamata, masih ramai diberitakan oleh media Italia dan Indonesia. Di satu sisi Inter memang membutuhkan dana segar untuk menutup akumulasi kerugian lebih dari 150 juta euro demi memenuhi aturan Financial Fair Play. Masalah finansial ini tentu sangat mendesak. Inter butuh penampilan bagus di Serie A musim depan demi lolos ke Liga Champions yang akan menyuntikkan jutaan euro berharga untuk mereka.

Untuk itu, Inter membutuhkan lebih banyak tambahan pemasukan dari sektor penonton dan komersial. Perbaikan sudah coba dilakukan dengan mengikat kerjasama dengan perusahaan konstruksi dari Cina, China Railway Construction Corporation untuk membangun stadion baru. Proyek besar ini diberitakan akan rampung pada tahun 2017.

Terkait saham, mereka juga telah melepas 15% kepemilikan mereka kepada grup perusahaan Cina sehilai 500 juta euro demi meringankan beban finansial. Dari data laba/rugi, Inter memiliki hasil yang lebih mengerikan. Akumulasi kerugian mereka dalam 6 tahun mencapai lebih dari 700 juta euro.

Kerugian Inter paling besar terjadi di tahun 2007 yang menembus angka 200 juta euro. Di 2010, terdapat peningkatan performa keuangan karena berhasil menjuarai Liga Champions. Namun selanjutnya kerugian Inter berada di kisaran 70-80 juta euro, jumlah yang secara kasat mata akan terkena sanksi Financial Fair Play.

Inilah sebabnya Inter beroperasi dengan pendekatan berbeda musim ini setelah rangkaian keputusan yang mendekati mismanagement terjadi di enam musim terakhir. Biaya gaji mereka tahun 2010 adalah salah satu yang tertinggi, bahkan di tingkat Eropa. Mereka membiayai gaji pemain hingga 234 juta euro, yang bahkan lebih banyak dari penerimaan mereka saat itu sebesar 225 juta.

Satu-satunya jalan bagi Il Biscione untuk menghindari sanksi UEFA adalah dengan mengukir profit sebesar 35 juta euro tahun ini. Dengan akumulasi kerugian yang sudah mencapai lebih dari 150 juta euro dalam dua tahun kebelakang, profit senilai 35 juta akan menyelamatkan laporan keuangan Inter dengan akumulasi kerugian senilai 42 juta euro. Apalagi dengan absennya mereka di Liga Champions musim ini, mereka berpotensi kehilangan pendapatan senilai 20 hingga 50 juta euro.

Menjual saham mayoritas ke Erick Thohir di sisi lain memang merupakan jalan pintas mengatasi masalah ini. Namun disini yang dipertaruhkan adalah reputasi dan identitas Internazionale. Morratti sendiri masih ragu dalam menanggapi masalah ini. Beliau masih ragu dan takut Inter akan bernasib seperti Malaga yang seperti anak ayam kehilangan induk setelah ditinggalkan investornya.

Beberapa waktu yang lalu, tuttosport.com memberitakan perbandingan Inter versi Thohir dan Inter versi Morratti. Keduanya hadir dengan skema 3-5-2 khas Walter Mazzarri.

Inter versi Moratti diperkirakan masih mempertahankan muka lama di lini depan. Sementara versi Thohir, bakal mendatangkan nama besar di lini depan seperti Pablo Osvaldo dan Lavezzi. Tak lupa juga Nainggolan
dan Rami.


Inter versi Moratti:
 Handanovic;
 CAMPAGNARO (Free (9,5 juta euro)), Samuel, Juan,
 ISLA (Trade), FLAMINI (Free), Cambiasso, Kovacic, ZUNIGA (18 juta Euro); 
ICARDI (15 juta Euro), Palacio.

Inter versi Thohir: 
Handanovic;
 Ranocchia, RAMI (12 juta Euro), Juan;
BASTA (7 juta Euro), PAULINHO (16 juta Euro), Kovacic, NAINGGOLAN (18 juta Euro), ZUNIGA (18 juta Euro); 
LAVEZZI (25 juta Euro), OSVALDO (15 juta Euro).

Mari kita analisis kedua starting line-up impian masing-masing pihak.

Inter versi Moratti masih mempertahankan nama-nama lama. Starting line-up ini mengorbankan dua nama yaitu Guarin dan Rannocchia. Kemungkinan Guarin dilepas dan Rannocchia ditukar tambah dengan Mauricio Isla memang menjadi rumor calciomercato musim panas ini. Campagnaro dan Flamini bisa didapatkan dengan gratis, meninggalkan Zuniga dan Icardi yang menjadi buruan La Beneamata dalam calciomercato musim ini. Keduanya konon akan menghabiskan biaya transfer 33 juta euro NEGO. Dengan estimasi bandrol Ranocchia yang bernilai 20 juta euro dan Guarin yang bernilai 16 juta Euro, maka Inter perlu mengalokasikan dana 12,5 juta Euro lagi.

Sementara Inter versi Thohir menjanjikan starting line-up yang lebih progresif. Pemain baru dalam line-up yang dirilis tuttosport bernilai total 113 juta euro NEGO. Namun mari menilik satu persatu pemain yang diinginkan Erick Thohir.

Adil Rami
Bek Prancis yang bermain di Valencia ini memang salah satu bek yang diandalkan timnas Prancis di Euro lalu. Tapi banderol senilai 12 juta Euro layakah untuk bek yang rentan cedera seperti Rami?
Dusan Basta
Basta memang menjadi alternatif bagi Isla. Harga 7 juta euro yang menjadi banderolnya juga cukup terjangkau. Karakternya yang eksplosif juga cocok untuk skema permainan Mazzarri.
Paulinho
Pemain ini sudah menjadi buruan Il Biscione sejak calciomercato musim dingin lalu. Tarik ulur negosiasi yang tidak disepakati kedua belah pihak menjadi penyebab kegagalan kepindahannya. Harga 16 juta Euro
nampaknya cukup layak untuk pemain yang mencetak gol di laga persahabatan Brazil v Inggris kemarin.
Radja Nainggolan
Gelandang Cagliari ini memang berstatus for sale, demi menyelamatkan neraca keuangan Cagliari. Nainggolan bisa menjadi solusi gelandang box to box yang bertenaga di lini tengah la Beneamata. Selain itu Nainggolan dapat menjadi aset berharga untuk menarik fans di Indonesia (well, konon ICI merupakan Inter Club pertama di dunia yang mencapai 4000 anggota.).
Camilo Zuniga
Konon Zuniga adalah buruan wajib bagi Mazzari. No comment untuk orang ini.
Ezequiel Lavezzi
Kedatangan Lavezzi akan menambah eksplosifitas lini serang La Beneamata. Namun ada harga ada kualitas, harga 25 juta euro menurut saya terlalu mahal.
Pablo Osvaldo
Osvaldo is a big NO! Kenapa? Kelakuannya yang tempramental itu berpotensi menjadi bumerang bagi Il Biscione. Apalagi dengan harga 15 juta Euro.

Apapun keputusan Moratti terkait dengan masa depan status kepemilikan La Beneamata ini, semoga menjadi yang terbaik bagi Il Nerazzuri. Dijual atau tidak saya yakin keputusannya akan didukung oleh segenap Interisti. Seandainya tidak dijual, saya yang memegang teguh prinsip Jawa "Gusti Paring Dalan" (Tuhan akan memberi jalan) yakin dengan seyakin yakinnya Inter akan menemukan solusi untuk masalah finansialnya. Seandainya Moratti memutuskan untuk menjual saham mayoritasnya pada Erick Thohir, harapan saya, Inter tidak ditinggalkan seperti Malaga. Jangan sampai lah, chant di Giuseppe Meazza bertambah dengan lagu "Bukan Bang Thohir".

_AnovA_
yang mencintai Inter
Tuesday, 4 June 2013
Posted by AnovA

Inter ala Mazzari



 Benvenutto Mazzari!
Walter Mazzari telah resmi didapuk menjadi pelatih Il Biscione untuk dua musim ke depan. Kesuksesan membawa Napoli menjadi runner-up Serie A musim 2012-2013 menjadi dasar harapan untuk mengangkat Inter dari keterpurukan musim ini. Mazzari sendiri dikenal piawai meracik tim dengan skema tiga defender.

Bertahan dengan tiga bek tengah
Skema formasi dengan tiga bek tidak asing bagi Inter. Inter ala Gasperini dan Inter ala Stramaccionni pernah melakukannya, hanya saja hasilnya kurang memuaskan. Formasi dengan tiga bek pun dianggap rentan dibobol oleh banyak Interisti.
Namun jika kita melihat jauh ke tahun 1962, saat Inter berjaya di Eropa di tangan Helenio Herrera, kita akan melihat La Beneamata melakukan cattenacio dengan tiga difensore.
Seperti yang telah dijabarkan dalam tulisan sebelumnya, pertahanan Inter digalang oleh dua difensore Burgnich dan Guaneri, dilapis oleh satu libero, Armando Picchi. Di sisi kiri dan kanan masih dilapis dengan dua pemain eksplosif, sang legenda Giacinto Fachetti dan Jair.
Formasi itu menghasilkan gelar juara Eropa dua tahun berturutan. Sejatinya skema tiga bek memang lebih fleksibel dari pada skema empat bek. Sepakbola modern bertumpu pada pertarungan di lini tengah. Mengurangi lini belakang bukan untuk menambah lini serang namun justru menambal lini tengah.
Cattenacio ala Herrera bertumpu pada pemain sayap eksplosif, sigap bertahan dan sewaktu-waktu maju untuk memperluas opsi serangan, juga dibutuhkan gelandang ciamik yang mampu menjadi benteng awal pertahanan, perantara lini pertahanan dan lini depan sekaligus menjadi inisiator serangan.
Hal itu yang bakal menjadi PR Mazzari dalam menangani Inter.

Pergerakan Transfer Inter
Transfer musim panas 2013 akan menjadi waktu yang sangat penting bagi Inter untuk memenuhi kebutuhan taktik Mazzari. Sampai artikel ini ditulis sejumlah rumor transfer sudah menyebar. Zuniga, dan/atau Isla konon menjadi prioritas bagi Mazzari. Tidak mengherankan, karena jika menilik formasi yang dipakai Mazzari maupun formasi Cattenacio Herrera jika diterapkan untuk inter musim depan, memang tinggal membutuhkan seorang tornante di sisi kanan dan mungkin seorang registra.

Trio Difensore 
Rannocchia dan Juan jelas masih berpeluang masuk starting line-up Mazzarri. Kemampuan kedua bek muda Inter itu terbukti dengan selalu menjadi langganan line-up Strama saat mereka berdua fit, baik dalam sistem empat defender maupun tiga defender. Kedatangan Campagnaro yang sudah pernah bekerjasama dengan Mazzarri sebelumnya, berfungsi untuk menjadi cover bagi kedua difensore muda tersebut. Sistem tiga defender ala Mazzari menggunakan dua difensore centrale dengan man marking dan seorang difensori centrale sebagai cover

Dynamo on the Flank
Inter sudah memiliki Nagatomo di sisi kiri. Nagatomo mungkin akan dipertahankan Mazzarri, karena tipikal permainannya yang agresif menyerang dan tangguh dalam bertahan. Nagatomo adalah opsi terbaik Mazzari di posisi Terzino del sinistra. Sejak rezim Morratti berkuasa di Inter, sisi kiri acapkali menjadi kelemahan. Berbagai pemain didatangkan untuk menambal sisi kiri, mulai dari Francesco Coco, Grigoris Georgatos, hingga Maxwell, namun sisi kiri baru aman sejak kedatangan Nagatomo. Sebaliknya di sisi kanan, Inter mungkin masih memiliki Javier Zanetti, namun Il Capitano baru bisa merumput bulan Desember dan alternatif di sisi kanan, Schelotto dan Jonathan masih kurang ekplosif untuk menutup sisi kanan Inter. Bisa jadi kedatangan Isla ataupun Zuniga digunakan untuk menutup kekurangan ini. Namun jangan kesampingkan kedatangan Gino Peruzzi yang bisa menjadi alternatif la beneamata di sisi kanan.

Double Pivot
Kebutuhan double pivot dalam taktik sepakbola modern tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Formasi populer 4-2-3-1 jelas membutuhkan dua gelandang bertahan yang dapat melindungi back four, sekaligus menjadi inisiator serangan. Lalu apa fungsi double pivot dalam formasi berbasis tiga defender? Dua gelandang bertahan di Inter akan dapat diperankan dengan baik melalui Esteban Cambiasso dan Mateo Kovacic. Mazzari dapat melakukan hal yang dilakukan Carlo Mazzone di Brescia maupun Carlo Ancelotti di Milan yang telah mentransformasi Andrea Pirlo yang sejatinya adalah trequartista menjadi salah seorang registra terbaik yang pernah lahir di ranah calcio.
Mateo Kovacic memiliki visi dan akurasi passing yang yang baik, ditambah dia memiliki kemampuan membawa bola yang mungkin lebih baik dari Andrea Pirlo. Kovacic dapat menjadi inisiator serangan balik seperti taktik yang dipakai Mazzarri di Napoli. Jika Kovacic diletakkan di posisi naturalnya sebagai gelandang serang, La Beneamata masih bisa menempatkan Fredy Guarin sebagai Ball Winning Midfielder untuk mendampingi Cambiasso. Penempatan Fredy Guarin sedikit di depan Cambiasso dapat membantu il Biscione mendapat bola sebelum memasuki lini pertahanan Inter. Agresifitas Guarin akan termanfaatkan dengan baik jika diimbangi dengan tackling yang rapi.

Attaccante
Inter masih dapat menggunakan jasa Cassano sebagai pemain menyerang. Mazzarri dan Cassano pernah bekerjasama sebelumnya di Sampdoria. Rodrigo Palacio yang dibeli di bursa transfer musim panas lalu pun dapat memerankan Seconda Punta seperti yang diperankan Ezequiel Lavezzi di Napoli. Inter mungkin tidak memiliki predator lini depan seperti yang dimiliki Napoli dalam diri Edison Cavani. Tetapi Inter memiliki dua opsi untuk peran Prima Punta Diego Milito yang dapat berfungsi sebagai Deep Lying Forward. Peran Poacher pun mungkin akan diberikan pada attacante muda Mauro Icardi.

Inter ala Mazzarri
Inter ala Mazzarri akan menimbulkan sensasi nostalgia La Grande Inter. Setidaknya di tangan Mazzarri hampir mungkin La Beneamata dapat memenuhi ekspektasi minimal Interisti untuk kembali tampil di kompetisi Eropa di musim 2014/2015. Kesabaran dan ketidaklabilan Massimo Morratti sangat diperlukan oleh Inter ala Mazzari. Selain tentu saja keputusan Marco Branca dalam bursa transfer juga berperan besar dalam keberhasilan campaign La Beneamata dalam menyambut musim 2013/2014.


_AnovA_
Thursday, 30 May 2013
Posted by AnovA

Zanetti - The Achilles

Lima pertandingan sebelum berakhirnya musim terkutuk Inter musim ini, La Beneamata kembali didera musibah. Il Capitano, Javier Zanetti cedera parah dan divonis akan absen selama enam hingga delapan bulan. Cedera tendon achilles yang menerpa Il Pupi seakan melengkapi nestapa Il Biscione yang didera badai cedera di paruh kedua musim 2012-2013.

Achilles, dalam mitologi Yunani adalah seorang pahlawan perang yang luar biasa. Konon ia dipercaya sebagai manusia setengah dewa. Kedigdayaan Achilles memenangi setiap pertempuran yang dilaluinya membawanya ke pertempuran terbesarnya, Perang Troya, seperti yang dikisahkan Homer dalam magnum opus-nya Illiad.

Achilles dipercayai sebagai seorang tokoh yang tak bisa diendus oleh sang pencabut nyawa. Ibunya, dewi Thetis, mendapatkan ramalan tentang kematian anaknya. Ia berusaha untuk menghilangkan sifat ketidakabadian Achilles. Lalu ia memandikan Achilles di Sungai Styk, supaya anaknya terlindungi dari bahaya dan kebal. Saat memandikan, Dewi Thetis terus memegangi tumit Achilles. Seluruh tubuh Achilles kebal senjata, kecuali tumitnya yang tak tersentuh air Sungai Styk kala itu.

Achilles versi film Troy
Tak heran ketika pertempuran Troya tiba. Ia salah satu panglima kubu raja Menelaus yang bertahan hidup. Bahkan Hector, panglima sekaligus putra mahkota troya yang sama digdayanya, tewas terhunus pedang Achilles. Namun menjelang akhir keruntuhan Troya, panah Pangeran Paris menghunjam tumitnya, hingga ia terluka kemudian mati. Sejak itulah istilah tumit Achilles menjadi frase yang mengungkapkan titik lemah seseorang.

Achilles dan Zanetti memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua tangguh dalam menghadapi terpaan pertarungan. Zanetti di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun masih tangguh dan mampu bersaing menjadi pilihan utama di line-up Internazionale, tim yang dibelanya sejak 1995. Jarang sekali terdengar berita Il Pupi cedera parah hingga berbulan-bulan.

Bahkan musim 2012-2013 yang mungkin menjadi musim terburuk Inter, Il Capitano dengan kokohnya bertarung di lapangan hijau saat rekan-rekannya bergantian masuk ruang medis Nerazurri. Hingga insiden dengan pemain Rosanero, Salvatore Aronica menumbangkan tendon achilles sang kapten.

Tendon Achilles berasal gabungan dari tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus, dan otot plantaris kaki. Pada manusia, letaknya tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon tertebal dan terkuat pada badan manusia. Panjangnya sekitar 15 sentimeter, dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian mengumpul dan melekat pada bagian tengah-belakang tulang calcaneus.

Cedera tendon achilles biasanya dimulai dengan gejala nyeri pada pergelangan kaki atau tumit. Penangan pertama cedera ini sama halnya dengan cedera pada cedera olahraga yang lain yaitu dengan metode RICE. Cedera tendon achilles yang parah dapat dipulihkan dengan operasi dan mebutuhkan waktu 3-4 bulan untuk kemudian mengikuti program rehabilitas hingga pulih total.


_AnovA_
Thursday, 2 May 2013
Posted by AnovA

Javier Zanetti, Legenda Hidup Yang Legawa

"Dua hal yang tidak pernah berubah dari Zanetti, potongan rambutnya dan semangat yg ditunjukkannya."
- Giuseppe Bergomi (Kapten Internazionale 1987-1999)

Sepakbola adalah olahraga yang menarik saat pemain mencapai puncak permainan pada usia 26 sampai 28 tahun. Setelah itu, waktu mulai menggerogoti mereka, cedera menjadi lebih umum, peran dalam tim mulai berkurang dan akhirnya pemain akan terpental dari satu tim ke tim sebelum akhirnya menggantung sepatu mereka.Saat ini jarang ada pemain yang menghabiskan sebagian besar karir mereka dalam satu tim. Banyak pemain yang berpindah klub karena menganggap klub yang ia bermain tidak mendapatkan gelar dalam waktu yang cukup lama atau mengejar gaji yang lebih besar di klub yang lebih kaya. Samir Nasri, Robin van Persie, hingga Zlatan Ibrahimovic adalah beberapa contohnya. 

Hanya sedikit pemain yang bertahan di satu tim dan menjadi legenda, Ryan Giggs, Paul Scholes dan Gary Neville menjadi legenda di Manchester United. Di Italia, pemain seperti Francesco Totti menghabiskan seluruh karirnya di AS Roma. Alessandro Del Piero telah menghabiskan 99 persen dari karirnya bersama Juventus, dunia sepakbola juga menjadi saksi salah satu bek terbaik sepanjang masa, Paolo Maldini, pensiun setelah menghabiskan seluruh karirnya bersama AC Milan.Satu nama yang tak boleh terlupa Javier Zanetti, dalam usia menjelang 40 tahun terus bermain di level tertinggi bersama Internazionale dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Meski bermain di Argentina selama beberapa tahun sebelum pindah ke Inter Milan pada usia 22 tahun, Zanetti mewujudkan semua ciri-ciri pemimpin yang baik dengan kehandalan, fleksibilitas dan konsistensi.

Banyak yang membandingkan Il Capitano Javier Zanetti dengan gelandang Red Devil, Ryan Giggs. Dengan umur yang sudah layak untuk gantung sepatu sebagai seorang pesepakbola, dua orang ini masih saja menjadi andalan bagi timnya masing-masing, mengarungi kasta tertinggi sepakbola Eropa. Namun, bagi saya Javier Zanetti memiliki kelebihan yang tak bisa dibandingkan dengan Ryan Giggs.

Keduanya memiliki fisik yang masih prima dibandingkan pesepakbola yang seumuran dengan mereka. Ryan Giggs masih sanggup mendribbling bola melewati beberapa pemain, sementara Il Pupi masih tangguh menghadang serangan-serangan yang mengancam pertahanan Il Biscione. Keduanya memiliki versatilitas yang luar biasa ketika digeser dari posisi natural mereka. Ryan Giggs mampu menjadi gelandang tengah sementara posisi naturalnya adalah sayap kiri klasik. Javier Zanetti lebih luar biasa lagi. Posisi naturalnya adalah bek kanan, namun ia mampu menjadi bek kiri, bek tengah, gelandang bertahan, gelandang kanan, ataupun gelandang kiri dengan sama baiknya menyesuaikan taktik 19 pelatih yang menangani La Beneamata sejak 1995 hingga kini.

Memang Ryan Giggs lebih bergelimang gelar dari pada Il Capitano, tapi itu semua di bawah satu nama pelatih Sir Alex Ferguson yang telah melatih Manchester United sejak 1986. Jebolan Class of 1992 itu telah meraih 12 gelar juara Premier League (mungkin bertambah nanti malam), 4 FA Cup, 4 Piala Liga, 8 Community Shield, 2 gelar juara UEFA Champions League, 1 Piala UEFA, 1 Piala Interkontinental dan 1 juara Piala Dunia antar club. Semua diraihnya dibawah bimbingan Sir Alex Ferguson, semenjak debutnya di musim 1990/1991.

Javier Zanetti, rekrutan pertama Massimo Moratti yang mendambakan kembalinya era Il Grande Inter. Javier Zanetti direkrut ketika Internazionale melewati apa yang disebut Wikipedia sebagai the dark ages. Zanetti adalah pasak pertama yang ditancapkan Moratti untuk mengembalikan kejayaan Internazionale. Meskipun ia harus menunggu 3 tahun sebelum meraih piala pertama yaitu Piala UEFA pada tahun 1998. Namun Zanetti tetap setia dengan Nerazzuri. Piala pertama yang diangkat Zanetti adalah Coppa Italia tahun 2005, 10 tahun setelah debutnya dan merasakan Scudetto pada tahun 2007, 12 tahun setelah ia menjejakkan kaki di ranah calcio.

Kesabaran, loyalitas dan kelegawaan Zanetti bertahan di kubu Il Biscione mencapai puncaknya ketika Internazionale mengukir sejarah sebagai klub Italia pertama yang meraih treble pada tahun 2010. 15 tahun penantian Zanetti untuk mencapai achievement luar biasa itu. Pencapaian itu diraih setelah Internazionale berganti pelatih hingga 14 kali, dan Zanetti tetap mampu bersaing menempati starting line up La Beneamata. Zanetti tetap mampu menunjukkan kelasnya ketika Maicon Douglas Sisenando, salah satu bek kanan terbaik dunia didatangkan ke Stadio Giuseppe Meazza pada tahun 2006. Alih-alih duduk di bangku cadangan, Il Pupi menunjukkan fleksibilitas dengan beralih ke sisi kiri lini belakang. Bahkan untuk lebih menunjukkan betapa serbaguna dia sebenarnya, ia pernah dimainkan Jose Mourinho di lini tengah ketika lini tengah Internazionale dilanda badai cederaSalah satu penampilannya yang paling luar biasa adalah ketika Zanetti mendampingi Esteban Cambiasso sebagai gelandang bertahan, bahu membahu mematikan Lionel Messi dalam semifinal UEFA Champions League 2009-2010, yang berbuntut treble pertama sepanjang sejarah calcio.
Ban kapten Internazionale melingkar di lengannya sejak menerima jabatan kapten dari Giuseppe Bergomi yang pensiun pada tahun 1999, empat tahun setelah debutnya di Internazionale. Bergomi pun termasuk pemain yang loyal. 20 tahun karier sepak bolanya hanya ia habiskan di Internazionale. Jabatan kapten yang telah ia sandang sejak tahun 1987 pun diestafetkan kepada Zanetti yang juga telah memecahkan rekornya sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Internazionale. 

Dalam kasus apapun, il Capitano adalah perwujudan dari seorang pemimpin sejati. Meskipun usianya hampir 40 tahun, ia masih cukup handal untuk menampilkan permainan kelas dunia di Serie A, Liga Champion dan panggung Internasional. Tidak peduli siapa yang melatih Inter, Zanetti masih sanggup memainkan lebih dari 50 pertandingan tiap tahunnya. Sesuatu yang mungkin belum tentu bisa dilakukan pemain yang berusia lebih muda darinya. Layaknya anggur, Zanetti terus bermain lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Jangan pensiun dulu kapten.
 

_AnovA_

Note: 
Legawa artinya adalah tulus hati, ikhlas
Monday, 22 April 2013
Posted by AnovA

Membedah 'La Grande Inter'

Helenio Herrera
Jauh sebelum Internazionale bangkit di Serie A pada musim 2004 hingga meraih treble pada tahun 2010, La Beneamata pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1960-1968. Masa itu disebut era 'La Grande Inter'. Era 'La Grande Inter' berawal dari kedatangan pelatih Helenio Herrera pada tahun 1960 dari Barcelona, ​​dengan membawa Luis Suárez, jenderal lapangan tengah Barcelona yang memenangkan Ballon d'Or pada tahun yang sama. Helenio Herrera inilah yang mengubah Il Biscione menjadi salah satu tim terbesar di Eropa di masa itu. 

Internazionale dibawanya ke peringkat tiga Serie A di musim pertamanya, peringkat dua di musim berikutnya dan meraih scudetto di musim kepelatihannya yang ketiga. Di Eropa, kebesaran Inter diikuti kemenangan Piala Champions secara berurutan pada tahun 1964 dan 1965. Herrera pun dijuluki ll Mago, yang berarti penyihir. 

Taktik yang membawa kesuksesan
Dalam dua musim pertamanya, Herrera memainkan sepakbola menyerang, seperti yang ia lakukan di Camp Nou. Tapi itu hanya menghasilkan peringkat ketiga dan peringkat kedua di dua musim pertamanya. Hal ini membuat Presiden Angelo Moratti mempertimbangkan pemecatan dirinya.

Herrera memodifikasi taktik 5-3-2 atau yang pada waktu itu dikenal sebagai Verrou (grendel) untuk memberi fleksibilitas yang lebih besar pada saat serangan balik. Sistem ini sebenarnya diciptakan oleh seorang pelatih Austria bernama Karl Rappan. Skema asli Rappan pada dasarnya menggunakan 4 defender tetap, memainkan sistem man-to-man yang ketat, ditambah playmaker di tengah lapangan yang mengatur distribusi bola bersama dengan dua sayap lini tengah. 

Herrera merespon dengan memindahkan seorang gelandang  ke posisi sweeper, sebagai defender kelima namun membebaskan bek kiri untuk membantu serangan. Sweeper bertindak sebagai pemain yang menghadang musuh yang telah melewati dua center back sekaligus menjadi poros pertama serangan balik.  

Skema Permainan La Grande Inter

Armando Picchi menjadi salah satu sweeper terbaik di dunia di bawah pelatih berdarah Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Facchetti mampu mencetak banyak gol karena skema yang benar-benar membebaskan dia untuk maju menyerang hingga garis depan.

Luis Suarez dibawa Herrera dari Barcelona untuk bermain di Internazionale, menggunakan dia sebagai jenderal lapangan tengah dengan visi permainannya yang fantastis untuk mendistribusikan bola ke depan, sementara sayap kanan (atau tornante) Jair bermain lebih ke dalam untuk mengisi ruang di kanan belakang.

Dengan sistem inilah Herrera membawa Inter meraih Piala Champions dan Piala Interkontinental dua kali berturut-turut, tiga Scudetto dan Coppa Italia dalam rezim kepelatihannya di Internazionale.

disadur dengan berbagai penyesuaian dari:
oleh : Sam Tighe
Thursday, 18 April 2013
Posted by AnovA

Materazzi On Referees: ‘Official, They’re…’

After another non-existent penalty against Inter, Marco Materazzi wasn’t happy at all as he tweeted against the referees:

“Official! They’re shit!”

And no more words are needed to describe how the referees have been acting.

Source: http://fedenerazzurra.com/2013/04/15/materazzi-on-referees-official-theyre/
Tuesday, 16 April 2013
Posted by AnovA

Luka La Beneamata

Musim 2012-2013 mungkin bukan merupakan musim yang manis bagi Internazionale. Berbagai kontroversi dan badai cedera datang silih berganti menghantam Il Nerazurri. Diawali dari cedera Diego Milito di ajang UEFA Europe League, kemudian disambung oleh cedera Rodrigo Palacio kurang dari 24 jam setelah menjadi pahlawan kemenangan Inter atas Sampdoria, ditambah lagi cedera Antonio Cassano, yang praktis menyisakan Tomasso Rocchi sebagai satu satunya striker senior di kubu Il Biscione.
Peluang La Beneamata untuk tampil di UEFA Champion League musim depan pun terancam pupus. Tipisnya stok pemain dan jarak 9 points dengan rival sekota AC Milan yang menempati posisi ketiga nampaknya sulit dikejar, mengingat kompetisi tinggal menyisakan enam pertandingan. Masuk ke enam besar menjadi target paling realistis bagi squad Andrea Strammaccioni. Namun Internazionale perlu banyak berbenah untuk menatap musim depan, jika ingin mempertahankan reputasinya sebagai salah satu tim besar di Italia.

Badai Cedera, Apakah Murni ketidakberuntungan belaka?
Tipisnya squad Inter disebabkan oleh badai cedera disaat kompetisi memasuki frase krusial. Cedera bukan hal yang baru bagi Inter. Namun sejak kepergian Jose Mourinho, cedera pemain Inter meningkat sampai taraf yang mengkhawatirkan. Musim ini 11 dari 33 pemain Inter cedera. Hal ini berarti sepertiga dari squad utama Inter. 
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Mungkin jika ini hanya permainan Football Manager, saya yakin Strammaccioni akan me-restart permainan. Sayangnya hal ini adalah kenyataan yang harus dihadapi.
Kekalahan mengecewakan atas Cagliari semalam, masih ditambah dengan cederanya Walter Gargano dan Yuto Nagatomo yang baru masuk kurang dari 10 menit. Apakah ada kesalahan dengan tim medis Inter? Bisa jadi. Atau mungkin ada kesalahan dalam metode latihan dan metode kebugaran pemain? Mungkin saja.

Kesalahan Kebijakan Transfer
Selain permasalahan badai cedera di atas, kubu Nerazzuri menerima banyak kritik mengenai kebijakan transfer yang buruk. Duet Marco Branca dan Pierro Ausillio menjadi kambing hitam atas kesalahan kebijakan transfer Il Nerazzuri. Yang terbaru tentu saja keputusan menyertakan separuh kepemilikan Marco Livaja sebagai bagian dari transfer Ezequiel Schelotto. 
Di awal musim, jebolan Primavera Samuelle Longo dan Marco Livaja digadang-gadang sebagai calon striker masa depan Nerazzuri. Namun, Samuelle Longo dipinjamkan ke Espanyol, sedangkan Livaja akhirnya malah berlabuh di kubu La Dea. Sebagai gantinya Inter malah mendatangkan Tomasso Rocchi yang lama tidak bermain di kompetisi yang kompetitif. Hal ini berimbas saat kompetisi memasuki masa krusial, sementara cedera datang menerpa pemain Inter. Memang, tidak semua transfer Inter buruk. Kedatangan Schelotto, Kovacic, dan Kuzmanovic di jendela transfer musim dingin mampu melapis lini tengah Inter.

Internazionale: Reboot
Menarik menunggu bagaimana Massimo Moratti akan bereaksi terhadap musim yang mengecewakan bagi Inter. Kesalahan memang tidak sepenuhnya terletak pada Andrea Strammaccioni sebagai pelatih ataupun Marco Branca dan Pietro Ausillio sebagai penanggung jawab transfer ataupun Franco Combi sebagai penanggung jawab medis Inter. 
Jika Moratti benar-benar ingin meremajakan Inter, hendaknya beliau memiliki kesabaran untuk mempertahankan Strammaccioni dan banyak mempromosikan dan mempertahankan pemain muda Internazionale.
Akademi Internazionale adalah salah satu akademi sepakbola terbaik di Italia. Terbukti di squad Azzurini banyak ditempati oleh jebolan akademi Internazionale. La Beneamata harus berani memainkan dan mempertahankan pemain mudanya. Talenta seperti Rafaelle di Gennaro, Simone Pasa, Marco Benassi, Joel Obi, Ibrahima Mbaye hingga Mateo Kovacic harus dipertahankan dan diberi kesempatan bermain semaksimal mungkin.
Inter (dan juga Italia) harus berani meniru klub-klub Jerman yang berhasil menelurkan pemain-pemain muda berbakat dengan kesabaran dan memberi kesempatan bermain. Percayalah Inter (dan Italia) tak pernah kekurangan pemain berbakat. Kesuksesan tak pernah datang dalam waktu semusim.

Forza Inter!

dapat disimak juga di:
http://inter-milan-indonesia.blogspot.com/2013/04/luka-la-beneamata.html
Monday, 15 April 2013
Posted by AnovA

Popular Post

Blogger templates

Labels

- Copyright © anovanisme -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -