Showing posts with label Sepakbola. Show all posts

Mengheningkan Cipta untuk Yugoslavia.


 Masih ada yang ingat negara eropa timur bernama Yugoslavia? Negara yang terletak di timur Laut Adriatic itu kini terpecah menjadi tujuh negara itu, pernah menjadi salah satu negara berpengaruh di dunia pesepakbolaan eropa awal 90-an. Bulan Juni 1991 adalah awal bencana bagi Yugoslavia ketika Slovenia dan Kroasia mendeklarasikan kemerdekaannya, disusul Makedonia pada bulan September tahun yang sama, kemudian Bosnia Herzegovina pada tahun 1992, terakhir Montenegro memisahkan diri dari Serbia pada tahun 2006. 

Mari melihat potensi tim Yugoslavia pada masa itu. Siapa yang tidak mengenal Predrag Mijatovic, pencetak gol ke gawang Angelo Perruzzi yang membawa Real Madrid merengkuh trofi ketujuh Liga Champion Eropa? Atau Dejan Savicevic yang menjadi motor AC Milan setelah era Trio Belanda. Ada juga Zvonimir Boban (Ya, dia berkebangsaan Kroasia, tapi sempat bermain untuk Yugoslavia sebanyak tujuh kali sebelum Kroasia memisahkan diri). Masih ada Sinisa Mihajlovic, Vladimir Jugovic dan banyak talenta-talenta Eropa Timur yang bisa menjadi batu sandungan tim eropa barat. Di Piala dunia, prestasi tertinggi mereka dua kali mencapai semi final (1930 dan 1962), dan mencapai final di Euro edisi 1960 dan 1968.

Mari berandai-andai jika negara Yugoslavia masih eksis dan menancapkan kukunya di dunia pesepakbolaan saat ini. Siapa kira-kira yang mengisi starting line-up?

Goalkeeper
Samir Handanovic













Sub:
Asmir Begovic
Stipe Pletikosa

Defender

Dusan Basta
Neven Subotic
Nemanja Vidic
Aleksandar Kolarov

Sub: 
Matija Nastasic
Stefan Savic
Darijo Srna
Branislav Ivanovic

Midfielder
Adem Ljajic
Aleksandar Ignjovski
Luka Modric



Josip Ilicic













Sub:
Zdravko Kuzmanovic
Mateo Kovacic
Goran Pandev
Dusan Tadic


Forward
Mario Mandzukic

Stefan Jovetic













Sub
Edin Dzeko
Mirko Vucinic



_AnovA_
Saturday, 15 June 2013
Posted by AnovA
Tag :

Bukan Bang Thohir!

Rencana Erick Thohir mengakusisi La Beneamata, masih ramai diberitakan oleh media Italia dan Indonesia. Di satu sisi Inter memang membutuhkan dana segar untuk menutup akumulasi kerugian lebih dari 150 juta euro demi memenuhi aturan Financial Fair Play. Masalah finansial ini tentu sangat mendesak. Inter butuh penampilan bagus di Serie A musim depan demi lolos ke Liga Champions yang akan menyuntikkan jutaan euro berharga untuk mereka.

Untuk itu, Inter membutuhkan lebih banyak tambahan pemasukan dari sektor penonton dan komersial. Perbaikan sudah coba dilakukan dengan mengikat kerjasama dengan perusahaan konstruksi dari Cina, China Railway Construction Corporation untuk membangun stadion baru. Proyek besar ini diberitakan akan rampung pada tahun 2017.

Terkait saham, mereka juga telah melepas 15% kepemilikan mereka kepada grup perusahaan Cina sehilai 500 juta euro demi meringankan beban finansial. Dari data laba/rugi, Inter memiliki hasil yang lebih mengerikan. Akumulasi kerugian mereka dalam 6 tahun mencapai lebih dari 700 juta euro.

Kerugian Inter paling besar terjadi di tahun 2007 yang menembus angka 200 juta euro. Di 2010, terdapat peningkatan performa keuangan karena berhasil menjuarai Liga Champions. Namun selanjutnya kerugian Inter berada di kisaran 70-80 juta euro, jumlah yang secara kasat mata akan terkena sanksi Financial Fair Play.

Inilah sebabnya Inter beroperasi dengan pendekatan berbeda musim ini setelah rangkaian keputusan yang mendekati mismanagement terjadi di enam musim terakhir. Biaya gaji mereka tahun 2010 adalah salah satu yang tertinggi, bahkan di tingkat Eropa. Mereka membiayai gaji pemain hingga 234 juta euro, yang bahkan lebih banyak dari penerimaan mereka saat itu sebesar 225 juta.

Satu-satunya jalan bagi Il Biscione untuk menghindari sanksi UEFA adalah dengan mengukir profit sebesar 35 juta euro tahun ini. Dengan akumulasi kerugian yang sudah mencapai lebih dari 150 juta euro dalam dua tahun kebelakang, profit senilai 35 juta akan menyelamatkan laporan keuangan Inter dengan akumulasi kerugian senilai 42 juta euro. Apalagi dengan absennya mereka di Liga Champions musim ini, mereka berpotensi kehilangan pendapatan senilai 20 hingga 50 juta euro.

Menjual saham mayoritas ke Erick Thohir di sisi lain memang merupakan jalan pintas mengatasi masalah ini. Namun disini yang dipertaruhkan adalah reputasi dan identitas Internazionale. Morratti sendiri masih ragu dalam menanggapi masalah ini. Beliau masih ragu dan takut Inter akan bernasib seperti Malaga yang seperti anak ayam kehilangan induk setelah ditinggalkan investornya.

Beberapa waktu yang lalu, tuttosport.com memberitakan perbandingan Inter versi Thohir dan Inter versi Morratti. Keduanya hadir dengan skema 3-5-2 khas Walter Mazzarri.

Inter versi Moratti diperkirakan masih mempertahankan muka lama di lini depan. Sementara versi Thohir, bakal mendatangkan nama besar di lini depan seperti Pablo Osvaldo dan Lavezzi. Tak lupa juga Nainggolan
dan Rami.


Inter versi Moratti:
 Handanovic;
 CAMPAGNARO (Free (9,5 juta euro)), Samuel, Juan,
 ISLA (Trade), FLAMINI (Free), Cambiasso, Kovacic, ZUNIGA (18 juta Euro); 
ICARDI (15 juta Euro), Palacio.

Inter versi Thohir: 
Handanovic;
 Ranocchia, RAMI (12 juta Euro), Juan;
BASTA (7 juta Euro), PAULINHO (16 juta Euro), Kovacic, NAINGGOLAN (18 juta Euro), ZUNIGA (18 juta Euro); 
LAVEZZI (25 juta Euro), OSVALDO (15 juta Euro).

Mari kita analisis kedua starting line-up impian masing-masing pihak.

Inter versi Moratti masih mempertahankan nama-nama lama. Starting line-up ini mengorbankan dua nama yaitu Guarin dan Rannocchia. Kemungkinan Guarin dilepas dan Rannocchia ditukar tambah dengan Mauricio Isla memang menjadi rumor calciomercato musim panas ini. Campagnaro dan Flamini bisa didapatkan dengan gratis, meninggalkan Zuniga dan Icardi yang menjadi buruan La Beneamata dalam calciomercato musim ini. Keduanya konon akan menghabiskan biaya transfer 33 juta euro NEGO. Dengan estimasi bandrol Ranocchia yang bernilai 20 juta euro dan Guarin yang bernilai 16 juta Euro, maka Inter perlu mengalokasikan dana 12,5 juta Euro lagi.

Sementara Inter versi Thohir menjanjikan starting line-up yang lebih progresif. Pemain baru dalam line-up yang dirilis tuttosport bernilai total 113 juta euro NEGO. Namun mari menilik satu persatu pemain yang diinginkan Erick Thohir.

Adil Rami
Bek Prancis yang bermain di Valencia ini memang salah satu bek yang diandalkan timnas Prancis di Euro lalu. Tapi banderol senilai 12 juta Euro layakah untuk bek yang rentan cedera seperti Rami?
Dusan Basta
Basta memang menjadi alternatif bagi Isla. Harga 7 juta euro yang menjadi banderolnya juga cukup terjangkau. Karakternya yang eksplosif juga cocok untuk skema permainan Mazzarri.
Paulinho
Pemain ini sudah menjadi buruan Il Biscione sejak calciomercato musim dingin lalu. Tarik ulur negosiasi yang tidak disepakati kedua belah pihak menjadi penyebab kegagalan kepindahannya. Harga 16 juta Euro
nampaknya cukup layak untuk pemain yang mencetak gol di laga persahabatan Brazil v Inggris kemarin.
Radja Nainggolan
Gelandang Cagliari ini memang berstatus for sale, demi menyelamatkan neraca keuangan Cagliari. Nainggolan bisa menjadi solusi gelandang box to box yang bertenaga di lini tengah la Beneamata. Selain itu Nainggolan dapat menjadi aset berharga untuk menarik fans di Indonesia (well, konon ICI merupakan Inter Club pertama di dunia yang mencapai 4000 anggota.).
Camilo Zuniga
Konon Zuniga adalah buruan wajib bagi Mazzari. No comment untuk orang ini.
Ezequiel Lavezzi
Kedatangan Lavezzi akan menambah eksplosifitas lini serang La Beneamata. Namun ada harga ada kualitas, harga 25 juta euro menurut saya terlalu mahal.
Pablo Osvaldo
Osvaldo is a big NO! Kenapa? Kelakuannya yang tempramental itu berpotensi menjadi bumerang bagi Il Biscione. Apalagi dengan harga 15 juta Euro.

Apapun keputusan Moratti terkait dengan masa depan status kepemilikan La Beneamata ini, semoga menjadi yang terbaik bagi Il Nerazzuri. Dijual atau tidak saya yakin keputusannya akan didukung oleh segenap Interisti. Seandainya tidak dijual, saya yang memegang teguh prinsip Jawa "Gusti Paring Dalan" (Tuhan akan memberi jalan) yakin dengan seyakin yakinnya Inter akan menemukan solusi untuk masalah finansialnya. Seandainya Moratti memutuskan untuk menjual saham mayoritasnya pada Erick Thohir, harapan saya, Inter tidak ditinggalkan seperti Malaga. Jangan sampai lah, chant di Giuseppe Meazza bertambah dengan lagu "Bukan Bang Thohir".

_AnovA_
yang mencintai Inter
Tuesday, 4 June 2013
Posted by AnovA

Inter ala Mazzari



 Benvenutto Mazzari!
Walter Mazzari telah resmi didapuk menjadi pelatih Il Biscione untuk dua musim ke depan. Kesuksesan membawa Napoli menjadi runner-up Serie A musim 2012-2013 menjadi dasar harapan untuk mengangkat Inter dari keterpurukan musim ini. Mazzari sendiri dikenal piawai meracik tim dengan skema tiga defender.

Bertahan dengan tiga bek tengah
Skema formasi dengan tiga bek tidak asing bagi Inter. Inter ala Gasperini dan Inter ala Stramaccionni pernah melakukannya, hanya saja hasilnya kurang memuaskan. Formasi dengan tiga bek pun dianggap rentan dibobol oleh banyak Interisti.
Namun jika kita melihat jauh ke tahun 1962, saat Inter berjaya di Eropa di tangan Helenio Herrera, kita akan melihat La Beneamata melakukan cattenacio dengan tiga difensore.
Seperti yang telah dijabarkan dalam tulisan sebelumnya, pertahanan Inter digalang oleh dua difensore Burgnich dan Guaneri, dilapis oleh satu libero, Armando Picchi. Di sisi kiri dan kanan masih dilapis dengan dua pemain eksplosif, sang legenda Giacinto Fachetti dan Jair.
Formasi itu menghasilkan gelar juara Eropa dua tahun berturutan. Sejatinya skema tiga bek memang lebih fleksibel dari pada skema empat bek. Sepakbola modern bertumpu pada pertarungan di lini tengah. Mengurangi lini belakang bukan untuk menambah lini serang namun justru menambal lini tengah.
Cattenacio ala Herrera bertumpu pada pemain sayap eksplosif, sigap bertahan dan sewaktu-waktu maju untuk memperluas opsi serangan, juga dibutuhkan gelandang ciamik yang mampu menjadi benteng awal pertahanan, perantara lini pertahanan dan lini depan sekaligus menjadi inisiator serangan.
Hal itu yang bakal menjadi PR Mazzari dalam menangani Inter.

Pergerakan Transfer Inter
Transfer musim panas 2013 akan menjadi waktu yang sangat penting bagi Inter untuk memenuhi kebutuhan taktik Mazzari. Sampai artikel ini ditulis sejumlah rumor transfer sudah menyebar. Zuniga, dan/atau Isla konon menjadi prioritas bagi Mazzari. Tidak mengherankan, karena jika menilik formasi yang dipakai Mazzari maupun formasi Cattenacio Herrera jika diterapkan untuk inter musim depan, memang tinggal membutuhkan seorang tornante di sisi kanan dan mungkin seorang registra.

Trio Difensore 
Rannocchia dan Juan jelas masih berpeluang masuk starting line-up Mazzarri. Kemampuan kedua bek muda Inter itu terbukti dengan selalu menjadi langganan line-up Strama saat mereka berdua fit, baik dalam sistem empat defender maupun tiga defender. Kedatangan Campagnaro yang sudah pernah bekerjasama dengan Mazzarri sebelumnya, berfungsi untuk menjadi cover bagi kedua difensore muda tersebut. Sistem tiga defender ala Mazzari menggunakan dua difensore centrale dengan man marking dan seorang difensori centrale sebagai cover

Dynamo on the Flank
Inter sudah memiliki Nagatomo di sisi kiri. Nagatomo mungkin akan dipertahankan Mazzarri, karena tipikal permainannya yang agresif menyerang dan tangguh dalam bertahan. Nagatomo adalah opsi terbaik Mazzari di posisi Terzino del sinistra. Sejak rezim Morratti berkuasa di Inter, sisi kiri acapkali menjadi kelemahan. Berbagai pemain didatangkan untuk menambal sisi kiri, mulai dari Francesco Coco, Grigoris Georgatos, hingga Maxwell, namun sisi kiri baru aman sejak kedatangan Nagatomo. Sebaliknya di sisi kanan, Inter mungkin masih memiliki Javier Zanetti, namun Il Capitano baru bisa merumput bulan Desember dan alternatif di sisi kanan, Schelotto dan Jonathan masih kurang ekplosif untuk menutup sisi kanan Inter. Bisa jadi kedatangan Isla ataupun Zuniga digunakan untuk menutup kekurangan ini. Namun jangan kesampingkan kedatangan Gino Peruzzi yang bisa menjadi alternatif la beneamata di sisi kanan.

Double Pivot
Kebutuhan double pivot dalam taktik sepakbola modern tentu saja tidak bisa dikesampingkan. Formasi populer 4-2-3-1 jelas membutuhkan dua gelandang bertahan yang dapat melindungi back four, sekaligus menjadi inisiator serangan. Lalu apa fungsi double pivot dalam formasi berbasis tiga defender? Dua gelandang bertahan di Inter akan dapat diperankan dengan baik melalui Esteban Cambiasso dan Mateo Kovacic. Mazzari dapat melakukan hal yang dilakukan Carlo Mazzone di Brescia maupun Carlo Ancelotti di Milan yang telah mentransformasi Andrea Pirlo yang sejatinya adalah trequartista menjadi salah seorang registra terbaik yang pernah lahir di ranah calcio.
Mateo Kovacic memiliki visi dan akurasi passing yang yang baik, ditambah dia memiliki kemampuan membawa bola yang mungkin lebih baik dari Andrea Pirlo. Kovacic dapat menjadi inisiator serangan balik seperti taktik yang dipakai Mazzarri di Napoli. Jika Kovacic diletakkan di posisi naturalnya sebagai gelandang serang, La Beneamata masih bisa menempatkan Fredy Guarin sebagai Ball Winning Midfielder untuk mendampingi Cambiasso. Penempatan Fredy Guarin sedikit di depan Cambiasso dapat membantu il Biscione mendapat bola sebelum memasuki lini pertahanan Inter. Agresifitas Guarin akan termanfaatkan dengan baik jika diimbangi dengan tackling yang rapi.

Attaccante
Inter masih dapat menggunakan jasa Cassano sebagai pemain menyerang. Mazzarri dan Cassano pernah bekerjasama sebelumnya di Sampdoria. Rodrigo Palacio yang dibeli di bursa transfer musim panas lalu pun dapat memerankan Seconda Punta seperti yang diperankan Ezequiel Lavezzi di Napoli. Inter mungkin tidak memiliki predator lini depan seperti yang dimiliki Napoli dalam diri Edison Cavani. Tetapi Inter memiliki dua opsi untuk peran Prima Punta Diego Milito yang dapat berfungsi sebagai Deep Lying Forward. Peran Poacher pun mungkin akan diberikan pada attacante muda Mauro Icardi.

Inter ala Mazzarri
Inter ala Mazzarri akan menimbulkan sensasi nostalgia La Grande Inter. Setidaknya di tangan Mazzarri hampir mungkin La Beneamata dapat memenuhi ekspektasi minimal Interisti untuk kembali tampil di kompetisi Eropa di musim 2014/2015. Kesabaran dan ketidaklabilan Massimo Morratti sangat diperlukan oleh Inter ala Mazzari. Selain tentu saja keputusan Marco Branca dalam bursa transfer juga berperan besar dalam keberhasilan campaign La Beneamata dalam menyambut musim 2013/2014.


_AnovA_
Thursday, 30 May 2013
Posted by AnovA

Zanetti - The Achilles

Lima pertandingan sebelum berakhirnya musim terkutuk Inter musim ini, La Beneamata kembali didera musibah. Il Capitano, Javier Zanetti cedera parah dan divonis akan absen selama enam hingga delapan bulan. Cedera tendon achilles yang menerpa Il Pupi seakan melengkapi nestapa Il Biscione yang didera badai cedera di paruh kedua musim 2012-2013.

Achilles, dalam mitologi Yunani adalah seorang pahlawan perang yang luar biasa. Konon ia dipercaya sebagai manusia setengah dewa. Kedigdayaan Achilles memenangi setiap pertempuran yang dilaluinya membawanya ke pertempuran terbesarnya, Perang Troya, seperti yang dikisahkan Homer dalam magnum opus-nya Illiad.

Achilles dipercayai sebagai seorang tokoh yang tak bisa diendus oleh sang pencabut nyawa. Ibunya, dewi Thetis, mendapatkan ramalan tentang kematian anaknya. Ia berusaha untuk menghilangkan sifat ketidakabadian Achilles. Lalu ia memandikan Achilles di Sungai Styk, supaya anaknya terlindungi dari bahaya dan kebal. Saat memandikan, Dewi Thetis terus memegangi tumit Achilles. Seluruh tubuh Achilles kebal senjata, kecuali tumitnya yang tak tersentuh air Sungai Styk kala itu.

Achilles versi film Troy
Tak heran ketika pertempuran Troya tiba. Ia salah satu panglima kubu raja Menelaus yang bertahan hidup. Bahkan Hector, panglima sekaligus putra mahkota troya yang sama digdayanya, tewas terhunus pedang Achilles. Namun menjelang akhir keruntuhan Troya, panah Pangeran Paris menghunjam tumitnya, hingga ia terluka kemudian mati. Sejak itulah istilah tumit Achilles menjadi frase yang mengungkapkan titik lemah seseorang.

Achilles dan Zanetti memiliki banyak kesamaan. Mereka berdua tangguh dalam menghadapi terpaan pertarungan. Zanetti di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun masih tangguh dan mampu bersaing menjadi pilihan utama di line-up Internazionale, tim yang dibelanya sejak 1995. Jarang sekali terdengar berita Il Pupi cedera parah hingga berbulan-bulan.

Bahkan musim 2012-2013 yang mungkin menjadi musim terburuk Inter, Il Capitano dengan kokohnya bertarung di lapangan hijau saat rekan-rekannya bergantian masuk ruang medis Nerazurri. Hingga insiden dengan pemain Rosanero, Salvatore Aronica menumbangkan tendon achilles sang kapten.

Tendon Achilles berasal gabungan dari tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus, dan otot plantaris kaki. Pada manusia, letaknya tepat di bagian pergelangan kaki. Tendon Achilles adalah tendon tertebal dan terkuat pada badan manusia. Panjangnya sekitar 15 sentimeter, dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian strukturnya kian mengumpul dan melekat pada bagian tengah-belakang tulang calcaneus.

Cedera tendon achilles biasanya dimulai dengan gejala nyeri pada pergelangan kaki atau tumit. Penangan pertama cedera ini sama halnya dengan cedera pada cedera olahraga yang lain yaitu dengan metode RICE. Cedera tendon achilles yang parah dapat dipulihkan dengan operasi dan mebutuhkan waktu 3-4 bulan untuk kemudian mengikuti program rehabilitas hingga pulih total.


_AnovA_
Thursday, 2 May 2013
Posted by AnovA

Javier Zanetti, Legenda Hidup Yang Legawa

"Dua hal yang tidak pernah berubah dari Zanetti, potongan rambutnya dan semangat yg ditunjukkannya."
- Giuseppe Bergomi (Kapten Internazionale 1987-1999)

Sepakbola adalah olahraga yang menarik saat pemain mencapai puncak permainan pada usia 26 sampai 28 tahun. Setelah itu, waktu mulai menggerogoti mereka, cedera menjadi lebih umum, peran dalam tim mulai berkurang dan akhirnya pemain akan terpental dari satu tim ke tim sebelum akhirnya menggantung sepatu mereka.Saat ini jarang ada pemain yang menghabiskan sebagian besar karir mereka dalam satu tim. Banyak pemain yang berpindah klub karena menganggap klub yang ia bermain tidak mendapatkan gelar dalam waktu yang cukup lama atau mengejar gaji yang lebih besar di klub yang lebih kaya. Samir Nasri, Robin van Persie, hingga Zlatan Ibrahimovic adalah beberapa contohnya. 

Hanya sedikit pemain yang bertahan di satu tim dan menjadi legenda, Ryan Giggs, Paul Scholes dan Gary Neville menjadi legenda di Manchester United. Di Italia, pemain seperti Francesco Totti menghabiskan seluruh karirnya di AS Roma. Alessandro Del Piero telah menghabiskan 99 persen dari karirnya bersama Juventus, dunia sepakbola juga menjadi saksi salah satu bek terbaik sepanjang masa, Paolo Maldini, pensiun setelah menghabiskan seluruh karirnya bersama AC Milan.Satu nama yang tak boleh terlupa Javier Zanetti, dalam usia menjelang 40 tahun terus bermain di level tertinggi bersama Internazionale dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Meski bermain di Argentina selama beberapa tahun sebelum pindah ke Inter Milan pada usia 22 tahun, Zanetti mewujudkan semua ciri-ciri pemimpin yang baik dengan kehandalan, fleksibilitas dan konsistensi.

Banyak yang membandingkan Il Capitano Javier Zanetti dengan gelandang Red Devil, Ryan Giggs. Dengan umur yang sudah layak untuk gantung sepatu sebagai seorang pesepakbola, dua orang ini masih saja menjadi andalan bagi timnya masing-masing, mengarungi kasta tertinggi sepakbola Eropa. Namun, bagi saya Javier Zanetti memiliki kelebihan yang tak bisa dibandingkan dengan Ryan Giggs.

Keduanya memiliki fisik yang masih prima dibandingkan pesepakbola yang seumuran dengan mereka. Ryan Giggs masih sanggup mendribbling bola melewati beberapa pemain, sementara Il Pupi masih tangguh menghadang serangan-serangan yang mengancam pertahanan Il Biscione. Keduanya memiliki versatilitas yang luar biasa ketika digeser dari posisi natural mereka. Ryan Giggs mampu menjadi gelandang tengah sementara posisi naturalnya adalah sayap kiri klasik. Javier Zanetti lebih luar biasa lagi. Posisi naturalnya adalah bek kanan, namun ia mampu menjadi bek kiri, bek tengah, gelandang bertahan, gelandang kanan, ataupun gelandang kiri dengan sama baiknya menyesuaikan taktik 19 pelatih yang menangani La Beneamata sejak 1995 hingga kini.

Memang Ryan Giggs lebih bergelimang gelar dari pada Il Capitano, tapi itu semua di bawah satu nama pelatih Sir Alex Ferguson yang telah melatih Manchester United sejak 1986. Jebolan Class of 1992 itu telah meraih 12 gelar juara Premier League (mungkin bertambah nanti malam), 4 FA Cup, 4 Piala Liga, 8 Community Shield, 2 gelar juara UEFA Champions League, 1 Piala UEFA, 1 Piala Interkontinental dan 1 juara Piala Dunia antar club. Semua diraihnya dibawah bimbingan Sir Alex Ferguson, semenjak debutnya di musim 1990/1991.

Javier Zanetti, rekrutan pertama Massimo Moratti yang mendambakan kembalinya era Il Grande Inter. Javier Zanetti direkrut ketika Internazionale melewati apa yang disebut Wikipedia sebagai the dark ages. Zanetti adalah pasak pertama yang ditancapkan Moratti untuk mengembalikan kejayaan Internazionale. Meskipun ia harus menunggu 3 tahun sebelum meraih piala pertama yaitu Piala UEFA pada tahun 1998. Namun Zanetti tetap setia dengan Nerazzuri. Piala pertama yang diangkat Zanetti adalah Coppa Italia tahun 2005, 10 tahun setelah debutnya dan merasakan Scudetto pada tahun 2007, 12 tahun setelah ia menjejakkan kaki di ranah calcio.

Kesabaran, loyalitas dan kelegawaan Zanetti bertahan di kubu Il Biscione mencapai puncaknya ketika Internazionale mengukir sejarah sebagai klub Italia pertama yang meraih treble pada tahun 2010. 15 tahun penantian Zanetti untuk mencapai achievement luar biasa itu. Pencapaian itu diraih setelah Internazionale berganti pelatih hingga 14 kali, dan Zanetti tetap mampu bersaing menempati starting line up La Beneamata. Zanetti tetap mampu menunjukkan kelasnya ketika Maicon Douglas Sisenando, salah satu bek kanan terbaik dunia didatangkan ke Stadio Giuseppe Meazza pada tahun 2006. Alih-alih duduk di bangku cadangan, Il Pupi menunjukkan fleksibilitas dengan beralih ke sisi kiri lini belakang. Bahkan untuk lebih menunjukkan betapa serbaguna dia sebenarnya, ia pernah dimainkan Jose Mourinho di lini tengah ketika lini tengah Internazionale dilanda badai cederaSalah satu penampilannya yang paling luar biasa adalah ketika Zanetti mendampingi Esteban Cambiasso sebagai gelandang bertahan, bahu membahu mematikan Lionel Messi dalam semifinal UEFA Champions League 2009-2010, yang berbuntut treble pertama sepanjang sejarah calcio.
Ban kapten Internazionale melingkar di lengannya sejak menerima jabatan kapten dari Giuseppe Bergomi yang pensiun pada tahun 1999, empat tahun setelah debutnya di Internazionale. Bergomi pun termasuk pemain yang loyal. 20 tahun karier sepak bolanya hanya ia habiskan di Internazionale. Jabatan kapten yang telah ia sandang sejak tahun 1987 pun diestafetkan kepada Zanetti yang juga telah memecahkan rekornya sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Internazionale. 

Dalam kasus apapun, il Capitano adalah perwujudan dari seorang pemimpin sejati. Meskipun usianya hampir 40 tahun, ia masih cukup handal untuk menampilkan permainan kelas dunia di Serie A, Liga Champion dan panggung Internasional. Tidak peduli siapa yang melatih Inter, Zanetti masih sanggup memainkan lebih dari 50 pertandingan tiap tahunnya. Sesuatu yang mungkin belum tentu bisa dilakukan pemain yang berusia lebih muda darinya. Layaknya anggur, Zanetti terus bermain lebih baik seiring dengan berjalannya waktu. Jangan pensiun dulu kapten.
 

_AnovA_

Note: 
Legawa artinya adalah tulus hati, ikhlas
Monday, 22 April 2013
Posted by AnovA

Membedah 'La Grande Inter'

Helenio Herrera
Jauh sebelum Internazionale bangkit di Serie A pada musim 2004 hingga meraih treble pada tahun 2010, La Beneamata pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1960-1968. Masa itu disebut era 'La Grande Inter'. Era 'La Grande Inter' berawal dari kedatangan pelatih Helenio Herrera pada tahun 1960 dari Barcelona, ​​dengan membawa Luis Suárez, jenderal lapangan tengah Barcelona yang memenangkan Ballon d'Or pada tahun yang sama. Helenio Herrera inilah yang mengubah Il Biscione menjadi salah satu tim terbesar di Eropa di masa itu. 

Internazionale dibawanya ke peringkat tiga Serie A di musim pertamanya, peringkat dua di musim berikutnya dan meraih scudetto di musim kepelatihannya yang ketiga. Di Eropa, kebesaran Inter diikuti kemenangan Piala Champions secara berurutan pada tahun 1964 dan 1965. Herrera pun dijuluki ll Mago, yang berarti penyihir. 

Taktik yang membawa kesuksesan
Dalam dua musim pertamanya, Herrera memainkan sepakbola menyerang, seperti yang ia lakukan di Camp Nou. Tapi itu hanya menghasilkan peringkat ketiga dan peringkat kedua di dua musim pertamanya. Hal ini membuat Presiden Angelo Moratti mempertimbangkan pemecatan dirinya.

Herrera memodifikasi taktik 5-3-2 atau yang pada waktu itu dikenal sebagai Verrou (grendel) untuk memberi fleksibilitas yang lebih besar pada saat serangan balik. Sistem ini sebenarnya diciptakan oleh seorang pelatih Austria bernama Karl Rappan. Skema asli Rappan pada dasarnya menggunakan 4 defender tetap, memainkan sistem man-to-man yang ketat, ditambah playmaker di tengah lapangan yang mengatur distribusi bola bersama dengan dua sayap lini tengah. 

Herrera merespon dengan memindahkan seorang gelandang  ke posisi sweeper, sebagai defender kelima namun membebaskan bek kiri untuk membantu serangan. Sweeper bertindak sebagai pemain yang menghadang musuh yang telah melewati dua center back sekaligus menjadi poros pertama serangan balik.  

Skema Permainan La Grande Inter

Armando Picchi menjadi salah satu sweeper terbaik di dunia di bawah pelatih berdarah Prancis-Argentina itu, sementara Giacinto Facchetti mampu mencetak banyak gol karena skema yang benar-benar membebaskan dia untuk maju menyerang hingga garis depan.

Luis Suarez dibawa Herrera dari Barcelona untuk bermain di Internazionale, menggunakan dia sebagai jenderal lapangan tengah dengan visi permainannya yang fantastis untuk mendistribusikan bola ke depan, sementara sayap kanan (atau tornante) Jair bermain lebih ke dalam untuk mengisi ruang di kanan belakang.

Dengan sistem inilah Herrera membawa Inter meraih Piala Champions dan Piala Interkontinental dua kali berturut-turut, tiga Scudetto dan Coppa Italia dalam rezim kepelatihannya di Internazionale.

disadur dengan berbagai penyesuaian dari:
oleh : Sam Tighe
Thursday, 18 April 2013
Posted by AnovA

Hamstring Yang Tak Selucu Hamster

Rodrigo Palacio


Cedera Rodrigo Palacio setelah membawa Inter memenangi laga tunda melawan Sampdoria awal April ini benar-benar membuat La Beneamata terpukul. Hal itu dipeburuk dengan cederanya Antonio Cassano, dalam laga melawan Atalanta. Tes yang dilakukan oleh tim medis Inter menunjukkan bahwa Palacio dan Cassano terkena cedera hamstring tingkat dua. Kata "Cedera Hamstring" bagi para penggila bola mungkin tak asing lagi. Hamstring memang merupakan cedera yang sering dialami oleh para pemain sepakbola. Terutama bagi mereka yang mengandalkan kecepatan dan melakukan berakselerasi secara intens.

Hamstring itu apa sih?
Otot hamstring (paha) merupakan kumpulan tiga otot yang memanjang mulai dari pinggul hingga lutut. Dengan otot-otot itu, kita bisa meluruskan kaki atau menekukkan otot. Celakanya, ketika otot-otot hamstring meregang melebihi batas, akan menyebabkan cedera.
Otot-otot Kaki

Cedera hamstring biasanya ditandai dengan nyeri di paha bagian belakang secara tiba-tiba saat beraktivitas. Otot terasa robek dan putus, area sakit terasa bengkak, lebam dan berwarna biru, otot melemah hingga kaki tak bisa lagi digunakan.

Cedera ini biasanya terjadi karena melakukan gerakan yang cepat dan tiba-tiba, seperti berlari, melompat, dan meregangkan kaki. Ketika terjadi hal-hal tadi, maka serabut otot hamstring mengalami peregangan berlebihan dan menyebabkan perdarahan dan memar.

Tingkat Cedera Hamstring
Dalam keterangan d atas, disebutkan Rodrigo Palacio dan Antonio Cassano mengalami cedera hamstring tingkat dua. Cedera hamstring pada umumnya dibagi menjadi tiga tingkatan.
Grade 1
Sensasi kram atau sesak dan sedikit perasaan nyeri saat otot diregangkan atau berkontraksi. Cedera hamstring tingkat satu biasanya sembuh dengan cepat, biasanya pemain bola akan kembali bermain dalam seminggu hingga dua minggu ke depan.
Grade 2
Satu sampai dua otot-otot hamstring mengalami robek. Rasanya tentu saja akan sangat menyakitkan. Paha dan kaki Anda masih bisa digerakkan, meski akan kehilangan sebagian tenaga. Cedera hamstring tingkat dua harus beristirahat antara empat hingga delapan minggu. 
Cedera Hamstring tingkat 3
Grade 3
Cedera hamstring grade 3 adalah cedera parah. Ada rasa terbakar atau nyeri seperti tertusuk pada otot dan atlet tidak dapat berjalan tanpa rasa sakit. Otot benar-benar robek dan ada kemungkinan  benjolan besar di jaringan otot yang robek. Tingkat tiga cedera hamstring memiliki waktu pemulihan lebih lama lagi, perlu lebih dari delapan minggu untuk penyembuhan dan paling tidak empat bulan istirahat untuk kembali ke keadaan semula.

Jika sudah mengalami itu, yang Anda butuhkan selain pengobatan adalah istirahat yang memakan waktu berbulan-bulan. Tak heran jika seorang pemain bola yang mengalami cedera hamstring parah harus rela duduk di bangku cadangan dan kehilangan kesempatan bermain.

Penanganan dan pencegahan

FIFA sendiri menganjurkan protokol P-R-I-C-E ketika seorang pemain tiba-tiba terkena cedera hamstring 
P - Protection; melindungi bagian yang cedera
R - Rest; mengistirahatkan bagian yang cedera
I - Ice; gunakan es, untuk mengurangi nyeri dan inflamasi.
C - Compression; Menekan bagian yang cedera untuk mengurangi pembengkakan
E - Elevation; meninggikan bagian yang cedera lebih tinggi dari letak jantung untuk mengurangi pembengkakan
Metode PRICE digunakan untuk mengurangi perdarahan dan kerusakan dalam jaringan otot. Cedera tingkat pertama dapat dengan mudah menjadi buruk jika otot hamstring tersebut tidak diistirahatkan dengan baik. Untuk cedera hamstring grade pertama, paha belakang harus beristirahat dari kegiatan olahraga selama kurang lebih 3 minggu, dan kelas dua luka biasanya membutuhkan 4 sampai 6 minggu untuk pemulihan. Otot hamstring yang pecah membutuhkan pembedahan dan rehabilitasi selama kurang lebih 3 bulan.
Pengobatan awal cedera, lepas dari tingkat keparahan cedera, adalah sama. Dalam lima hari pertama, otot hamstring yang diistirahatkan di posisi yang ditinggikan dengan kompres es selama dua puluh menit setiap dua jam. Kompresi perban dilakukan untuk membatasi pendarahan dan pembengkakan jaringan otot. Setelah lima hari istirahat, rehabilitasi aktif dapat dimulai.
Meski demikian, cedera otot hamstring dapat dicegah dengan meluangkan waktu untuk melakukan pemanasan. Cukup 10 hingga 15 menit sebelum latihan inti untuk melenturkan otot-otot.



_AnovA_
dari berbagai sumber

Posted by AnovA
Tag :

Der Klassiker di Final?


Undian UEFA Champion League mempertemukan dua tim asal Spanyol dan tim asal Jerman. FC Bayern Muenchen bersua dengan FC Barcelona dan Borussia Dortmund kembali bersua dengan Real Madrid. Kedua laga diprediksi akan berlangsung dengan ketat.
Muenchen dan Barcelona adalah dua tim dengan rata-rata possesion ball tertinggi di UCL. Menarik disimak bagaimana keduanya saling beradu strategi untuk bersaing ball possesion di lapangan. Dengan materi pemain yang komplet untuk menunjang permainannya Bayern Muenchen bukanlah tim kemaren sore yang bisa ditaklukkan oleh Barcelona. Sementara Barcelona sendiri tentu saja tidak bisa dipandang remeh meskipun dominasi Barcelona era Villanova mungkin tak seperti Barcelona era Pep Guardiola.

4-2-3-1 vs 4-3-3
Di Liga BBVA, formasi 4-2-3-1 musim ini menjadi formasi yang paling banyak dipakai oleh tim-tim peserta La Liga untuk menghadapi Barcelona. Meskipun tak semuanya berakhir dengan kemenangan. Keseimbangan penyerangan dan pertahanan dengan adanya dua Holding Midfielder, keleluasaan Attacking Midfielder untuk menyerang balik melalui tengah atau kedua sisi lapangan menjadi keunggulan formasi 4-2-3-1 dan menjadi kunci dalam meredam agresifitas formasi 4-3-3 khas Barcelona.
Kedua gelandang bertahan Bayern Muenchen, Javi Martinez dan
Bastian Schweinteiger akan bekerja keras menahan kreatifitas Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Sementara Messi akan dibantu David Villa dan Pedro Rodriguez akan bekerja membongkar pertahanan tim asal Bavaria yang dikomando Phillip Lahm.
Perlu diingat, bahwa Bayern Muenchen dan Real Madrid adalah dua tim yang mampu menerapkan sistem 4-2-3-1 dengan sangat baik. Javi Martinez dan Bastian Schweinteiger memiliki peran yang sangat besar dalam mengemban tugas sebagai Holding Midfielder untuk menutup celah di lini belakang, sekaligus menjadi inisiator serangan.
Barcelona sendiri yang fasih menggunakan 4-3-3 tentu tidak dapat diremehkan begitu saja. 4-3-3 Barcelona adalah 4-3-3 istimewa yang dikembangkan oleh Pep Guardiola yang musim depan dipastikan akan menangani Bayern Muenchen. 4-3-3 Barcelona sangat agresif dalam menyerang sekaligus mampu menahan counter attack dari lawannya. Hal ini tercermin dalam 98 gol yang dilesakkan Barcelona hingga jornada ke 31 di La Liga. Agresifitas dalam bertahan pun juga ditunjukan melalui pressing yang langsung dilakukan oleh pemain Barcelona saat kehilangan bola. Kebobolan 33 gol hingga jornada ke 31 adalah yang terbaik ke tiga setelah dua tim ibukota, Atletico Madrid dan Real Madrid.
4-3-3 yang pada dasarnya sangat cocok untuk melakukan serangan balik diubah Pep Guardiola menjadi formasi yang sangat fasih melakukan posession football.  Dengan formasi ini Pep Guardiola membawa Barcelona menguasai dunia.

Messi-dependensi
Barcelona mungkin perlu mewaspadai penyakit ketergantungan kepada Lionel Messi. Sang Messiah benar-benar menjadi tumpuan dalam 46 laga bersama El Barca. Terbukti dari 98 gol Barcelona di ajang La Liga, 43 gol dicetak atas nama pemain bernomor punggung 10 ini.
Bayern Muenchen perlu mewaspadai kehadiran pemain Argentina ini. Pada laga perempat final antara Barcelona dan PSG, Messi yang baru masuk pada menit ke-61 menjadi inisiator gol balasan yang dicetak Pedro Rodriguez. Messi mampu menarik perhatian lini belakang PSG sehingga Pedro mampu menemukan celah dan mencetak gol.
Bayern Muenchen perlu berkaca pada rival Barcelona, Real Madrid yang sukses mengalahkan Barcelona dalam dua El Classico terakhir, dan Intermilan pada leg I semifinal UCL 2010 yang sama-sama menerapkan 4-2-3-1 untuk menahan 4-3-3 Barcelona.

Kedalaman Squad yang Mumpuni
Bayern Muenchen didukung dengan pemain-pemain kelas dunia di semua lini, Materi pemain oke menjadikan Bayern kuat di segala sektor, mulai dari penjaga gawang, lini belakang, sampai  ujung tombak. Die Roten bahkan bisa dikatakan sebagai tim paling seimbang di antara para semi-finalis Liga Champions lainnya.

Di bawah mistar berdiri kiper nomor satu Jerman, Manuel Neuer. Sementara garis pertahanan yang ditinggal Badstuber akibat cedera panjang menjadi milik kapten Philipp Lahm, Daniel van Buyten/Jerome Boateng, Dante, serta David Alaba.

Double pivot yang menjadi kunci skema 4-2-3-1, Javi Martinez dan Bastian Schweinsteiger, yang tak hanya tangguh melindungi back-four tapi juga cermat dalam mendistribusikan bola. Dengan cederanya Toni Kroos, Arjen Robben kembali masuk tim inti sebagai trio penyokong di belakang striker bersama Thomas Muller dan Franck Ribery.

Sementara Mandzukic sukses merebut posisi utama di lini serang, karena selain jago menyerang, ia juga fasih memainkan peran sebagai "bek" pertama saat tim kehilangan bola. Bomber Kroasia itu akan absen dalam leg pertama melawan Barcelona di semi-final, namun sosok terpinggirkan, Mario Gomez, siap unjuk gigi. Sehingga bukan mustahil Bayern Muenchen akan mampu menaklukkan Barcelona.

4-2-3-1 vs 4-2-3-1
Sementara itu laga lain mempertemukan peringkat dua Bundesliga dan La Liga, Borussia Dortmund dan Real Madrid. Kedua tim sempat bertemu di babak penyisihan grup D. Nama besar Real Madrid tidak menjadi jaminan tim asal ibukota Spanyol itu melenggang mulus di semifinal. Dortmund menorehkan rekor belum terkalahkan di UCL musim ini. Sebuah hal yang tidak bisa dipandang remeh. Dalam dua pertemuan di babak penyisihan grup pun Real Madrid tidak mampu menaklukkan Die Borrusen.
Namun bukan berarti Borussia Dortmund akan dengan mudah melaju ke final. El Real di semifinal berbeda dengan El Real di penyisihan. Apalagi Real Madrid berambisi untuk meraih La Decima, trofi liga champion ke sepuluh, dan Jose Mourinho pun memiliki ambisi pribadi untuk mencetak rekor menjuarai liga champion ketiga kalinya dengan tiga tim berbeda.
Di atas kertas, Los Galacticos memiliki squad yang lebih mumpuni daripada Dortmund. Namun racikan Juergen Klopp dan status kuda hitam Borussia Dortmund menjadi kelebihan tim Jerman ini dalam melawan raksasa Spanyol.
Kedua tim sama-sama menggunakan 4-2-3-1, bisa diprediksi pertempuran di lini tengah akan berlangsung sengit. Lini tengah Madrid yang dikomando oleh Mezut Oezil dan Xabi Alonso akan berhadapan langsung dengan lini tengah Dortmund yang dikomando Ilkay Gudogan dan duet Marco Reus dan Mario Goetze.

Efisien dan Mematikan
Sepakbola Jerman dianggap identik dengan permainan monoton dan text book layaknya robot. Namun apa yang diperlihatkan Dortmund di musim ini berbeda dengan anggapan tersebut. Dortmund bermain lebih efisien dengan skema 4-2-3-1, dan tidak perlu terlalu lama menguasai bola. Saat menguasai bola, para pemain melakukan satu-dua sentuhan cepat, dan tiba-tiba sudah berada di depan gawang lawan.
Ketika kehilangan bola, Dortmund langsung melakukan tekanan ke pemain lawan. Mereka juga beberapa kali menunggu lawan menjadi lengah, dan selanjutnya melakukan serangan balik mematikan.
Dortmund juga memiliki duet Marco Reus dan Mario Goetze di lini tengah. Marco Reus bersama Mario Gotze menjadi sosok penting dalam serangan Dortmund. Reus dan Gotze bergantian menjalankan peran pengatur serangan yang diemban Shinji Kagawa musim lalu. Bahkan, duet itu lebih dahsyat dibandingkan pendahulunya.Gotze bertindak sebagai pengatur permainan. Pemain termuda di starting line-up ini tidak hanya bertugas sebagai pemberi umpan bagi Robert Lewandowski, namun juga pencetak gol. Hal serupa juga diperlihatkan Reus. Walau lebih kerap berperan sebagai pemain bernomor 9, Reus juga memiliki kemampuan untuk menjadi pengumpan andal. Pertukaran peran kedua pemain ini sering membuat lawan kebingungan.

Ambisi La Decima
Sementara Real Madrid memiliki ambisi meraih La Decima, gelar UEFA Champions League ke-10. Misi ini sebenarnya sudah digembar gemborkan oleh Real Madrid sejak musim 2011 – 2012. Musim lalu para pemain yakin dapat merengkuh trophy ke-10nya, tetapi di semi-final mereka harus mengakui kehebatan Bayern Munchen yang mengalahkan mereka lewat drama adu penalti dengan skor 3 – 1. Misi La Decima sendiri masih ingin dicapai oleh para pemain Real Madrid begitu pula para fans dan manajemen. Tak ayal pula sang pelatih Jose Mourinho juga mengidam-ngidamkan gelar ke-10, dengan mengubahnya semua dengan angka 10, seperti latihan pagi diganti menjadi jam 10 dan bahkan ketika Madrid bertandang ke Signal Iduna Park, markas Borussia Dortmund dalam penyisihan UCL musim ini, Jose Mourinho duduk dekat kabin dengan nomor bangku 10D, yang merupakan kata depan dari ‘Decima’. 
Menjadi juara UCL untuk kali kesepuluh adalah motivasi terbesar yang dimiliki Madrid sejak terakhir kali juara musim 2001/02. Tentu tidak ada waktu yang lebih tepat melakukannya dibandingkan dengan saat ini ketika mereka memiliki sosok seperti Cristiano Ronaldo, Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Xabi Alonso yang kenyang pengalaman merebut gelar juara; serta bintang-bintang internasional seperti Karim Benzema, Angel Di Maria, dan Mesut Ozil, juga pelatih handal Jose Mourinho yang telah mengantarkan FC Porto dan Internazionale menjadi Juara UCL. Apalagi kemungkinan menjadi kampiun di La Liga sudah sangat tipis sekali. Gelar La Decima akan membuat Los Galaticos masih bisa tersenyum di akhir musim.
Selain itu kemungkinan pelatih asal Portugal itu hengkang dari Santiago Bernabeu di akhir musim - apapun prestasi yang diraih Si Putih menjadi tambahan motivasi terendiri bagi sang Entrenador. Gelar La Decima di ajang tertinggi sepakbola Eropa akan menjadi kado perpisahan yang takkan dilupakan publik Madrid dalam buku sejarah.
Final Ideal
Siapa diantara 4 tim tangguh tersebut yang akan meraih La Orejana? Jawabannya tentu saja harus menanti Final tanggal 25 Mei mendatang. Keempat tim memilik kans yang sama besar. Namun hanya ada dua tim yang dapat melaju ke babak berikutnya, dan akan bertarung di Wembley, menjadi yang terbaik di Eropa.
Melihat rekam jejak keempat tim, tentu saja kita sebagai penikmat bola dapat berharap tiga pertandingan terakhir UCL musim ini akan berjalan seru. Semoga saja tidak terjadi kontroversi di semi final dan final besok.


Salam Olahraga!
Tuesday, 16 April 2013
Posted by AnovA

Materazzi On Referees: ‘Official, They’re…’

After another non-existent penalty against Inter, Marco Materazzi wasn’t happy at all as he tweeted against the referees:

“Official! They’re shit!”

And no more words are needed to describe how the referees have been acting.

Source: http://fedenerazzurra.com/2013/04/15/materazzi-on-referees-official-theyre/
Posted by AnovA

Luka La Beneamata

Musim 2012-2013 mungkin bukan merupakan musim yang manis bagi Internazionale. Berbagai kontroversi dan badai cedera datang silih berganti menghantam Il Nerazurri. Diawali dari cedera Diego Milito di ajang UEFA Europe League, kemudian disambung oleh cedera Rodrigo Palacio kurang dari 24 jam setelah menjadi pahlawan kemenangan Inter atas Sampdoria, ditambah lagi cedera Antonio Cassano, yang praktis menyisakan Tomasso Rocchi sebagai satu satunya striker senior di kubu Il Biscione.
Peluang La Beneamata untuk tampil di UEFA Champion League musim depan pun terancam pupus. Tipisnya stok pemain dan jarak 9 points dengan rival sekota AC Milan yang menempati posisi ketiga nampaknya sulit dikejar, mengingat kompetisi tinggal menyisakan enam pertandingan. Masuk ke enam besar menjadi target paling realistis bagi squad Andrea Strammaccioni. Namun Internazionale perlu banyak berbenah untuk menatap musim depan, jika ingin mempertahankan reputasinya sebagai salah satu tim besar di Italia.

Badai Cedera, Apakah Murni ketidakberuntungan belaka?
Tipisnya squad Inter disebabkan oleh badai cedera disaat kompetisi memasuki frase krusial. Cedera bukan hal yang baru bagi Inter. Namun sejak kepergian Jose Mourinho, cedera pemain Inter meningkat sampai taraf yang mengkhawatirkan. Musim ini 11 dari 33 pemain Inter cedera. Hal ini berarti sepertiga dari squad utama Inter. 
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Mungkin jika ini hanya permainan Football Manager, saya yakin Strammaccioni akan me-restart permainan. Sayangnya hal ini adalah kenyataan yang harus dihadapi.
Kekalahan mengecewakan atas Cagliari semalam, masih ditambah dengan cederanya Walter Gargano dan Yuto Nagatomo yang baru masuk kurang dari 10 menit. Apakah ada kesalahan dengan tim medis Inter? Bisa jadi. Atau mungkin ada kesalahan dalam metode latihan dan metode kebugaran pemain? Mungkin saja.

Kesalahan Kebijakan Transfer
Selain permasalahan badai cedera di atas, kubu Nerazzuri menerima banyak kritik mengenai kebijakan transfer yang buruk. Duet Marco Branca dan Pierro Ausillio menjadi kambing hitam atas kesalahan kebijakan transfer Il Nerazzuri. Yang terbaru tentu saja keputusan menyertakan separuh kepemilikan Marco Livaja sebagai bagian dari transfer Ezequiel Schelotto. 
Di awal musim, jebolan Primavera Samuelle Longo dan Marco Livaja digadang-gadang sebagai calon striker masa depan Nerazzuri. Namun, Samuelle Longo dipinjamkan ke Espanyol, sedangkan Livaja akhirnya malah berlabuh di kubu La Dea. Sebagai gantinya Inter malah mendatangkan Tomasso Rocchi yang lama tidak bermain di kompetisi yang kompetitif. Hal ini berimbas saat kompetisi memasuki masa krusial, sementara cedera datang menerpa pemain Inter. Memang, tidak semua transfer Inter buruk. Kedatangan Schelotto, Kovacic, dan Kuzmanovic di jendela transfer musim dingin mampu melapis lini tengah Inter.

Internazionale: Reboot
Menarik menunggu bagaimana Massimo Moratti akan bereaksi terhadap musim yang mengecewakan bagi Inter. Kesalahan memang tidak sepenuhnya terletak pada Andrea Strammaccioni sebagai pelatih ataupun Marco Branca dan Pietro Ausillio sebagai penanggung jawab transfer ataupun Franco Combi sebagai penanggung jawab medis Inter. 
Jika Moratti benar-benar ingin meremajakan Inter, hendaknya beliau memiliki kesabaran untuk mempertahankan Strammaccioni dan banyak mempromosikan dan mempertahankan pemain muda Internazionale.
Akademi Internazionale adalah salah satu akademi sepakbola terbaik di Italia. Terbukti di squad Azzurini banyak ditempati oleh jebolan akademi Internazionale. La Beneamata harus berani memainkan dan mempertahankan pemain mudanya. Talenta seperti Rafaelle di Gennaro, Simone Pasa, Marco Benassi, Joel Obi, Ibrahima Mbaye hingga Mateo Kovacic harus dipertahankan dan diberi kesempatan bermain semaksimal mungkin.
Inter (dan juga Italia) harus berani meniru klub-klub Jerman yang berhasil menelurkan pemain-pemain muda berbakat dengan kesabaran dan memberi kesempatan bermain. Percayalah Inter (dan Italia) tak pernah kekurangan pemain berbakat. Kesuksesan tak pernah datang dalam waktu semusim.

Forza Inter!

dapat disimak juga di:
http://inter-milan-indonesia.blogspot.com/2013/04/luka-la-beneamata.html
Monday, 15 April 2013
Posted by AnovA

Popular Post

Blogger templates

Labels

- Copyright © anovanisme -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -